Meteran listrik token prabayar terus berbunyi, sementara kamera bersama-sama warga bergegas menuju area terbuka di depan bangunan rumah susun (rusun). “Kita bakal dapat listrik gratis!” demikian teriakan Ketua RT rusun kepada warga saat memperkenalkan protagonis film ini, Guntur, sang pahlawan super yang mampu mengalirkan listrik. Warga rusun bersorak riuh sembari bertepuk tangan, demikian pula para penonton film pendek 90% Electricman.

Film karya sutradara Rafly Akbar ini dirilis pada gelaran Montaj (Movie Event Padjajaran) 2026, bertepatan dengan fenomena pemadaman listrik bergilir pada berbagai area di Pulau Jawa dan Bali bulan Juni lalu. Montaj merupakan festival film yang diselenggarakan oleh mahasiswa prodi Televisi dan Film, Universitas Padjajaran. Antuasiasme penonton memberikan gambaran bagaimana kisah dalam film ini beresonansi dengan kenyataan keseharian. Seiring film bergulir, sebagian pikiran saya mulai membayangkan: seandainya Electricman bisa menolong masyarakat yang rumahnya mengalami pemadaman listrik.

Source: Istimewa

Gagalnya Solidaritas Kelas

Adegan pembuka film 90% Electricman memberi petunjuk bagaimana kisah kepahlawanan super ini akan bergulir. Kamera mengambil posisi sebagai warga di kerumuman yang tengah melihat ke arah Ketua RT (rukun tetangga) dan Guntur. Dengan shot over the shoulder, bahu dua orang warga menghalangi pandangan penonton. Ketua RT nampak berdiri terjepit di antara kedua bahu, sementara posisi Guntur lebih tak leluasa lagi. Sebagian besar tubuh Guntur terhalang oleh bahu warga. Visualisasi ini menyiratkan bahwa seiring dengan teriakan listrik gratis dari Pak RT, berpindah pulalah beban kehidupan dari bahu warga kepada Guntur. Adegan berlanjut, memperlihatkan kekuatan super Guntur yang mampu menyalurkan energi pada gardu listrik rusun. Warga rusun riuh bersorak-sorai sambil bertepuk tangan. Entah itu makan siang atau listrik, “gratis” adalah mantra yang menyihir. Namun, sejurus kemudian, seiring dengan memuramnya tone warna film, Guntur diceritakan kehilangan kekuatan supernya.

Film ini tidak secara gamblang menceritakan asal-muasal kekuatan super Guntur. Penonton hanya dapat menerka bahwa Guntur mungkin pernah tersambar petir. Penjelasan mengenai penyebab hilang mendadaknya kekuatan Guntur juga agak samar. Tidak sepenuhnya jelas, apakah suasana hati Guntur yang buruk menyebabkan ia kehilangan energi, atau sebaliknya, lenyapnya energi super menyebabkan ia kehilangan semangat.

Bersamaan dengan hilangnya kekuatan Electricman, warga dikembalikan pada kondisi awal kehidupan mereka. Warga dan ketua RT bergantian menyambangi kediaman Guntur, berharap ia dapat mengurangi kesulitan warga dengan kembali menyalurkan listrik gratis. Guntur tidak lagi leluasa menyusuri area rusun, ia kian merasa bersalah. Guntur panik, ia mengusahakan berbagai cara agar kekuatannya kembali.

Sang sahabat, Lia, dihadirkan sebagai tokoh pendamping yang mengkatalis kesadaran baru Guntur. Pada salah satu adegan, ia menyindir Guntur agar memiliki pekerjaan alih-alih hanya menerima ucapan terima kasih warga atas pemberian energinya. Ia pula yang mendesak Guntur untuk berani menolak permintaan warga agar ia tak lagi hanya dimanfaatkan oleh ketergantungan warga.

Pada adegan di sebuah warung makan, perdebatan antara keduanya memperlihatkan sisi lain dari kisah kepahlawanan Guntur. Guntur tidak hanya tidak mampu menolak permintaan warga, ia bahkan menganggap bantuannya sebagai kewajiban yang harus ia lakukan. Di sisi lain, tersirat pula bagaimana diam-diam ia menganggap bahwa berkat kekuatan supernya barulah ia dapat diterima dan dipandang oleh warga. Sebaliknya, Lia merasa iba sekaligus kesal lantaran Guntur membiarkan dirinya dieksploitasi dan bahkan merasa bahwa kebaikannya adalah sebuah kewajiban.

Baik sikap Guntur maupun Lia diam-diam memperlihatkan pandangan mereka yang menempatkan warga sebagai beban, dan pihak yang menggerogoti batas kedirian mereka. “Ini tentang lo!” tegas Lia kepada Guntur.  Guntur merespon Lia dengan membagikan kekhawatirannya mengenai rasa tidak enak kepada warga dan nama baiknya. Dalam perkataan lain, kekhawatiran Guntur pertama-tama bukanlah soal kebertahanan hidup warga, melainkan relasi antara dirinya dengan para tetangga rusun.

Film ditutup dengan sandiwara Guntur di hadapan warga untuk menunjukkan bahwa ia telah sepenuhnya kehilangan energi listrik, meski sebenarnya kekuatan supernya telah kembali. Guntur memilih cara ini agar ia terbebas dari tuntutan warga atas listrik gratis. Dari sini nampak bagaimana sebagai karakter, Guntur cenderung mengambil sikap yang drastis: senantiasa menolong, atau tidak sama sekali dengan berpura-pura kehilangan kekuatannya. Ketimbang misalnya, menegaskan kepada warga untuk memiliki ekspektasi yang realistis atas bantuannya: bahwasanya ia memiliki limitasi diri dan tidak selamanya ia akan selalu bisa membantu. Selain dengan Lia, Guntur tidak pernah sungguh-sungguh berdialog dengan dengan para tetangga. Seakan ia merasa bahwa tidak ada gunanya berbicara dengan mereka.

Perkataan Lia beresonansi dengan sikap dan nilai yang dipilih oleh film ini. Film yang naskahnya ditulis oleh Madja Muda Negawa ini menolak solidaritas kelas yang bertumpu pada perjuangan dan pengorbanan individual. Sebagaimana dialog Lia, film 90% Electricman menganggap solidaritas semacam ini membebani dan eksploitatif, serta menggerogoti individu.

Meski sama-sama menolak solidaritas kelas yang mengandalkan perjuangan individual, nilai yang diusung oleh 90% Electricman memiliki nuansa yang berbeda dari kritik Iris Marion Young. Young melihat bahwa perjuangan individual tidak memadai untuk mengubah sesuatu yang sebenarnya merupakan problem sistemik dan struktural. Bayangkan kondisi ketika seseorang rajin membaca buku self-help dan pengembangan diri. Hal itu tidak serta-merta membereskan aneka persoalan, lantaran hidup keseharian kita didominasi oleh aneka problem sistemik dan struktual. Dalam film ini, kesulitan para warga untuk membiayai kebutuhan primer seperti listrik mencerminkan problem yang lebih sistemik: pendapatan mereka memang acap kali tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarga. Di sisi ini, pertolongan manusia super mungkin sesekali dapat membantu warga tapi tidak selamanya. Bagaimana mungkin Guntur menggantikan PLN?

Sumber Daya Manusia

Sepintas sikap Guntur dan Lia terhadap warga rusun nampak problematik. Namun, empati penonton pada Guntur bukanlah tanpa alasan. Guntur bukanlah superhero yang sungguh berdaya. Ia berasal dari kelas sosial dan latar belakang kehidupan yang serupa dengan orang-orang yang ditolongnya. Pada salah satu adegan percakapannya dengan Lia, penonton dapat mengetahui bahwa Guntur bahkan tidak memiliki pekerjaan. Hari-harinya diisi dengan mendistribusikan listrik kepada tetangga yang membutuhkan dengan mendapatkan upah terima kasih seikhlasnya berupa “kopi, makan siang, dan terkadang perabotan”. Lewat pembangunan narasinya, film ini menunjukkan bahwa sang penolong hidup dalam kondisi yang tidak berbeda dari mereka yang ditolongnya.

Lewat pemikiran filsafatnya, Martin Heidegger mengungkapkan kritiknya terhadap dunia modern. Ia mengkhawatirkan bagaimana cara pandang teknologis telah mengontaminasi paradigma kita dalam memandang alam semesta, termasuk sesama manusia, hanya sebagai alat dan sumber daya belaka. Istilah “sumber daya manusia” mengeksplisitkan kekhawatiran Heidegger, bahwasanya kemanusiaan kita dikerdilkan menjadi sekadar persoalan sumber daya.

Film 90% Electricman mengharafiahkan gagasan ini. Lihatlah adegan-adegan ketika tetangga rusun dan Ketua RT mewakili warga mendatangi Guntur. Mereka mencarinya karena membutuhkan sumber daya Guntur. Teman-teman sebaya Guntur pun bersikap acuh tak acuh. Kecuali Lia, tidak ada warga yang sungguh peduli pada kondisi Guntur saat dunianya goyah akibat hilangnya kekuatan. Adegan percakapan mendalam antara Guntur dan Lia sambil memandang langit malam hingga akhirnya kekuatan Guntur dapat muncul kembali mengisyaratkan bahwa apa yang benar-benar dibutuhkan Guntur adalah penerimaan akan dirinya apa adanya, dan bukannya hanya sebagai sumber daya.

Mengikuti kisah superhero pada umumnya, kekuatan Guntur memang diceritakan kembali di akhir film. Tetapi film ini tidak sepenuhnya mengamini rute narasi itu. Kontras dengan adegan pembuka, pada adegan penutup kamera tidak lagi mengambil perspektif warga rusun. Kali ini kamera mengikuti gerak Guntur menghampiri kerumunan warga untuk menjalankan sandiwaranya. Kekuatan Guntur telah kembali tetapi kediriannya telah berubah: ia bukan lagi pahlawan super yang hendak menyelamatkan banyak orang. Ia menolak selamanya diposisikan sebagai sumber daya, apalagi bila itu telah melahirkan ketergantungan.

Di titik ini, keberpihakan nilai yang diusung oleh 90% Electricman dapat lebih terpahami. Meski selanjutnya membersitkan pertanyaan saya lebih lanjut: mengapa film ini memilih untuk melokalisasi konflik pada dilema horizontal antara Guntur dan warga, alih-alih mengeksplisitkan akar persoalan? Bukankah sama seperti saya yang membayangkan kehadiran Guntur sang Electricman untuk membantu masyarakat yang terdampak pemadaman listrik bergilir, bukankah warga rusun juga amat mengandalkan Guntur karena mereka tidak berdaya? Narasi superhero ialah angan akan eskapisme dari problem realitas hidup keseharian, dan oleh sebab itu menjadi signifikan untuk mengemukakan persoalannya.

Kehadiran tokoh Ketua RT sebenarnya telah menunjukkan potensi untuk mengeksplisitkan kompleksitas persoalan. Sosok Pak RT—sebagai representasi warga sekaligus juga pemilik otoritas di level terbawah—telah digambarkan menekan keluarga Guntur. Ia tak mampu menggugat ke atas, dan hanya dapat menekan ke bawah. Ia membebankan persoalan kesejahteraan warga rusun justru kepada Guntur yang notabene-nya hanya merupakan warga berusia muda di rusun. Ketidakmampuan kolektif untuk memenuhi kebutuhan listrik menegaskan bahwa ini adalah problem sistemik vertikal. Hal itu menandai juga kerentanan kelas sosial menengah-bawah atas akses kebutuhan primer.

Lantas, mengapa film ini justru memilih membangun konflik lewat antagonisme kebahagiaan Guntur yang diperlawankan dengan kepentingan warga? Di sisi ini, saya sulit bersepakat dengan posisi yang diambil oleh 90% Electricman.