
Setelah adu jotos di Wilderness (2017), sutradara Yoshiyuki Kishi dan aktor Masaki Suda kembali berduet dalam komedi yang mengawinkan konten mukbang, mancing dan bedah rumah. Sebuah kontradiksi, karena Sunset Sunrise (2025) hidup dalam latar pandemi Covid dan trauma pasca bencana yang menghantui.
Sekilas, ceritanya sederhana: seorang pekerja kantoran yang gemar memancing pindah ke pedesaan setelah terpaksa kerja jarak jauh selama pandemi COVID-19. Namun, sebenarnya film ini merupakan karya yang sangat ambisius, mengangkat beberapa isu kontemporer. Poster film, yang menampilkan ekspresi Masaki Suda yang penuh gairah, tampaknya jadi faktor pendorong yang bikin saya memilih menonton Sunset Sunrise di gelaran JFF 2025 di Bandung.
Sebuah Tutorial Jadi Penyintas
Di awal film, seorang turis tiba-tiba muncul dan melontarkan komentar selewatan yang kurang simpatik. Soal gempa bumi lalu COVID-19. Film ini dengan lihai langsung menggambarkan hal-hal yang ingin kita lupakan, pura-pura tidak pernah terjadi, tapi membungkusnya dengan serangkaian tawa, membangkitkan kembali ingatan penonton.
Berlatar tahun 2020, ketika dunia terpaksa melakukan karantina akibat pandemi. Shinsaku Nishio (Masaki Suda) bekerja di sebuah perusahaan besar di Tokyo dan sangat antusias dengan hobinya memancing. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sebuah rumah 4LDK, sebuah format apartemen empat kamar, dengan biaya sewa hanya 60.000 yen di Minamisanriku, Prefektur Miyagi. Berkat pekerjaan jarak jauh akibat pandemi, tanpa pikir panjang ia pindah ke kota dekat dengan laut itu.
Momoka (Inoue Mao) sang pemilik rumah menyemprotkan disinfektan kepada Nishio, yang datang tiba-tiba tanpa berkabar dulu. Adegan komikal pecah. Sambil menertawakan kekacauan itu, saya ingat bahwa saat itu, saya juga melakukan hal yang sama dengan sangat serius. Saya tak ingin menjadi orang yang terinfeksi. Ketika melihat insiden-insiden terkait pandemi COVID-19 yang muncul di awal film, saya menyadari bahwa saya hampir lupa tentang apa yang terjadi beberapa tahun lalu, dan di tengah tawa itu, saya teringat betapa mudahnya orang lupa. Wajib pakai masker, jaga jarak, cek suhu sebelum masuk ruangan, berita pandemi di televisi yang tak henti-henti. COVID-19 sudah selevel flu musiman, jadi menontonnya sekarang memang tampak konyol. Tapi ketika itu terjadi beberapa tahun lalu, orang-orang menjalaninya dengan penuh ketakutan dan ketidakjelasan. Memang aneh dan menjengkelkan, tetapi entah bagaimana kita bisa hidup dengannya.
Di sela-sela pekerjaannya, dan karantina mandiri yang seharusnya ia lakukan, Nishio tak kuasa untuk tetap pergi memancing. Orang-orang sekitar khawatir dengan kemunculannya, yang mereka lihat sebagai orang asing dari Tokyo. Nishio awalnya bingung dengan tindakan penduduk setempat, tetapi dengan kepribadiannya yang positif dan aktif, ia mampu berbaur dengan penduduk setempat dan trauma yang menyelimuti.
3.11. Gempa bumi dahsyat pernah terjadi di sini. Orang-orang diurutkan berdasarkan apakah mereka mengalami bencana atau tidak, dan tingkat kerusakan, berdasarkan opini yang sewenang-wenang dan berprasangka, dan bahkan teman dekat pun tidak membicarakannya. Alasan mereka tidak membicarakannya bukan hanya karena pasrah, tetapi juga karena ragu-ragu sebab tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Seolah-olah mereka ingin melupakan, atau dilupakan. Peristiwa-peristiwa ini terjadi jauh sebelum COVID-19, dan bencana alam terus terjadi di berbagai tempat sejak saat itu, namun orang-orang masih belum menemukan cara terbaik untuk menghadapinya. Nishio tampaknya telah mencoba mengatasi hambatan tersebut dengan sebuah pernyataan akrobatik. Namun, pilihan yang ia buat ternyata sangat halus dan tulus.
Sunset Sunrise yang Komikal dan Jujur
Sejak awal sudah gamblang kalau ini adalah film adaptasi novel. Novel asli Sunset Sunrise diterbitkan pada tahun 2022. Masalahnya, penulisnya Shuhei Nire tak banyak diketahui di luar Jepang, mencari infonya agak susah bagi saya. Jadi kita bergeser ke Kankuro Kudo, atau yang sering dipanggil Kudokan, yang menjadi penulis naskah film. Dari wawancara di Vogue Japan, diketahui kalau beberapa draf ditulis ulang untuk versi film, termasuk plotnya. Ini juga merupakan kolaborasi pertama Kishi dan Kudokan.
Naskah Kudokan selalu menghidupkan masa lalu dan masa kini tempat latar ceritanya dengan sentuhan santai dan unik. Keragaman karakter, dalam harmoni yang memikat, menciptakan visi masa depan di masa kini. Sunset Sunrise menempatkan diri dengan cermat atas kenangan pandemi COVID-19 di latar depan dan dampak gempa bumi terhadap masyarakat di latar belakang, dengan fokus pada isu-isu sosial seperti rumah kosong dan relokasi di daerah pedesaan.
Di sisi lain, banyak hidangan ikan yang ditampilkan dalam film ini layaknya dokumenter masak-masak. Rupanya, film ini direkam di Kota Kesennuma, Prefektur Miyagi, dan Masaki Suda dikabarkan mengalami kenaikan berat badan sebesar 7 kg. Jika menelisik profil Kudokan, tenyata dia memang “warlok” kelahiran Miyagi, jadi tampaknya ada upaya promosi wisata daerah terselubung, dan bisa dibilang berhasil.
Selain itu, film ini tidak terlalu condong ke pedesaan atau perkotaan, melainkan menyeimbangkan sisi baik dan buruk keduanya. Pada bagian pertama, Sunset Sunrise banyak membahas kedatangan orang Tokyo di daerah pedesaan, dan dampak peristiwa tersebut terhadap komunitas kecil, yang menjadi semakin terpencil karena karantina wilayah. Komentar-komentar tentang latar pedesaan bergema cukup realistis. Kecurigaan, kecemburuan, gosip, ketakutan kalau yang asing bakal mengambil sesuatu yang mereka miliki adalah karakteristik dari semua masyarakat pedesaan di dunia. Begitu juga halnya rasa solidaritas untuk membantu sesama di dalam komunitas, yang semuanya digambarkan dengan fasih dalam film. Nishio berfungsi sebagai katalis dalam presentasi ini. Ia hadir sebagai yang asing, orang Tokyo yang berhasil melarikan diri ke desa, tak mau mendekam di apartemen sempit selama pandemi. Keindahan pemandangan dan makanannya, yang murah, berlimpah serta lezat, tentu jadi daya tarik. Ini berhasil dalam strategi menjual turisme. Tinggal satu dua hari tentu menyenangkan, tapi kenapa orang-orang desa ini malah pindah ke kota? Masalah depopulasi dengan kasus rumah-rumah kosong sedang ditangani Momoka yang merupakan pegawai balai desa. Nishio sang orang kota, awalnya memang yang asing dan hanya turis, tapi secara bertahap ia menjadi bagian komunitas kecil itu. Ada selintingan yang bikin saya tersenyum, dimanapun tempatnya, selalu “dari pusat” yang bakal mendikte, baik itu pemerintah (Momoka) maupun korporasi (Nishio).
Pergantian antara drama dan komedi agak berantakan, dan perpindahan dari satu fokus cerita ke cerita lain agak kurang terhubung. Namun seiring berjalannya alur, penempatan karakter dan struktur dialog secara bertahap mempersempit fokus pada perasaan dan kenangan yang terukir di latar belakang. Hal ini bisa jadi merupakan manifestasi dari visi Yoshiyuki Kishi, dan sentimen ini tampaknya tercermin dengan cermat di paruh kedua film, misalnya ketika sang protagonis mencoba merenovasi sebuah rumah tua dan mewariskannya kepada generasi mendatang.
Dialog yang ceria, humor yang tak terlupakan, ikatan antar manusia, dan penampilan luar biasa dari Suda dan Inoue, benar-benar menghidupkan drama kehidupan yang alami dan kuat ini. Suda tampil memukau dalam perannya sebagai seorang pekerja kantoran berusia 34 tahun yang riang, sederhana, dan polos dari kota. Mao Inoue, yang memerankan tokoh utama wanita, adalah mantan aktris cilik dan punya bakat akting yang sangat solid, dengan menawan memerankan seorang wanita berusia 36 tahun dengan luka batin yang mendalam.
Film ini mewujudkan beragam aspek kemanusiaan, termasuk kontradiksinya, dan saya pun secara alami berempati dengannya. Meski penggambaran langsung gempa bumi dan COVID-19 pasti akan menghasilkan produksi yang serius, keseimbangan film dalam menghadapi masalah secara langsung tanpa menyepelekannya, sekaligus tetap menggambarkannya dengan cara yang lucu, sungguh brilian.Bisakah seseorang menyalakan kembali cahaya di hati seseorang yang telah hilang? Pertanyaan ini seakan mengalir pelan di sepanjang film ini. Tidak ada kata-kata hari ini. Karya ini memang minim dialog dramatis atau filosofis, tetapi justru terasa sangat menenangkan dan jujur. Seperti judulnya, matahari terbenam dan terbit kembali, sama untuk semua orang, setiap saat. Sunset Sunrise terasa seperti membisikkan kata-kata ini dengan lembut kepada saya.
