Notice: Only variables should be passed by reference in /home/bahasine/domains/bahasinema.com/public_html/wp-content/themes/15zine/option-tree/ot-loader.php on line 329
Young and Dangerous: Muda, Tampan dan Berbahaya

Keep your friends close and your enemies closer” adalah kalimat yang mungkin paling terkenal dari dialog film Godfather part II (Francis Ford Coppola, 1974). Perseteruan antara organisasi mafia Sisilia yang mengembangkan dinasti kriminal di New York ini digambarkan penuh intrik dan kekerasan. Kisah keluarga Corleone digambarkan secara apik telah menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa.

Sama seperti halnya film Godfather yang telah menjadi wajah dunia Mafia Italia, di Hong Kong industri film telah membentuk imajinasi masyarakat tentang dunia kriminal triad. Begitu banyak tema film yang mengangkat kehidupan triad sehingga melahirkan sub genre tersendiri dari perfilman Hong Kong.

Dari sekian banyak judul film triad, serial film Young and Dangerous (Andrew Lau, 1996) adalah cerita mafia Hong Kong yang paling produktif, lengkap dengan beberapa spin-off. Jika dihitung-hitung serial film ini memiliki lebih dari 10 judul yang masih memiliki kaitan dengan dunia Young and Dangerous. Film Young and Dangerous diangkat dari komik terkenal Hong Kong yang berjudul Teddy Boy (1992). Film ini menggambarkan tentang kehidupan dunia kriminal Hong Kong lengkap dengan segala persoalan urban pada era 90an.

Film Young and Dangerous diawali oleh adegan flashback pada tahun 1985. Sekelompok anak muda belasan tahun yang diketuai oleh Chan Hao Nam (Ekin Cheng) sedang bermain sepak bola. Namun nahas nasib para remaja tanggung ini yang harus berurusan dengan preman setempat yang diketuai oleh Ugly Kwan (Francis Ng).

Para remaja ini langsung dijadikan bahan bulan-bulanan kelompok preman Ugly Kwan yang juga merupakan pentolan geng Hung Hing. Beruntung datang pentolan geng Hung Hing yang lebih senior bernama Paman Bee (Ng Chi Hung) yang membujuk Kwan untuk berhenti memukuli Hao Nam dan kawan-kawan.

Merasa berhutang budi, Hao Nam memohon pada Paman Bee untuk bisa menjadi anak buahnya di geng Hung Hing. Cerita meloncat pada tahun 1995, Hao Nam dan kawan-kawannya sudah tumbuh dewasa dan menjadi preman anak buah Paman Bee. Hau Nam dan teman-temannya yang  bernama Shan Ji/ Chicken si playboy (Jordan Chan), Dai Tin Yee (Michael Tse), Pou-Pan si gendut kacamata (Jerry Lamb), Chow-Pan (Jason Chu) mendapat tugas untuk menghabisi seorang preman bernama Ba-Bai di sebuah tempat spa.

Rupanya Ba-Bai adalah rekan Ugly Kwan yang juga berhutang 20 Juta padanya. Merasa dirugikan atas tidakan Ho Nam dan teman-temannya, Kwan berencana membuat perhitungan dengan Ho Nam. Sekali lagi jalan hidup kelompok Ho Nam dan Kwan bertemu dalam perselisihan.

Urusan berbuntut panjang dan terjadi saling serang antara Kwan dan Ho Nam. Ugly Kwan yang licik berhasil memecah belah kelompok Ho Nam, pertama dengan rencana penyergapan kelompok Ho Nam yang mengakibatkan Chow-Pan terbunuh. Lalu mengadu domba antara Ho Nam dan Chicken hingga akhirnya Chicken pergi ke Taiwan.

Kursi ketua geng Hung Hing yang pada saat itu dipegang oleh Mr. Chiang (Simon Yam) berhasil direbut oleh Ugly Kwan dengan segala tipu daya, sedangkan Ho Nam yang dianggap melanggar aturan diusir dari geng Hung Hing. 10 bulan kemudian, Kwan membunuh Paman Bee beserta seluruh keluarganya.

Disaat Ho Nam tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas dendam pada Kwan, Chicken kembali dari Taiwan dengan anak buah yang banyak dan kaya raya, rupanya dia telah sukses sebagai triad terpandang di Taiwan.

Hubungan Ho Nam dkk dan Chicken kembali membaik dan sepakat untuk membalas perbuatan Kwan. Seluruh petinggi geng Hung Hing disogok dengan sejumlah uang untuk membuat onar diberbagai sarang bisnis Kwan. Ho Nam dan kawan-kawan akhirnya berhasil menjebak Kwan di sebuah gang dan menyudutkannya. Ditengah kondisi genting, Kwan yang sedang memegang senjata dan menyanderai Pou-Pan, tertembak oleh seorang polisi.

Sejak kematian Kwan, Mr.Chiang kembali menjadi pemimpin geng Hung Hing dan memberikan jabatan pada Ho Nam sebagai penguasa daerah Causeway Bay.

Young dan Dangerous menggambarkan kisah romansa geng kriminal kota Hong Kong yang dipenuhi pertikaian, kekerasan, penghianatan dan tentu saja korban nyawa yang berjatuhan. Seperti halnya film The Godfather, film ini menjadi salah satu film triad legendaris Hong Kong.

Dunia triad Hong Kong memiliki banyak kemiripan dengan kondisi kota Jakarta beserta segala problematikanya. Lihat saja bagaimana para Pachinko (pasukan china kota) di Jakarta yang meniru dandanan bintang film Hong Kong pada era 70-90an. Bentuk Jakarta dengan trotoar jalanan yang sering digunakan berdagang dan gang sempit yang kumuh juga ditemui dalam suasana film triad Hong Kong.

Kota yang padat dengan sudut-sudut hiburan malam yang dikuasai oleh preman dalam film Young and Dangerous sebenarnya hadir dalam setiap permasalahan urban. Triad menurut sejarah terlahir dari sekelompok persaudaraan Tian Di hui (Persaudaraan Langit dan Bumi). Mereka adalah kelompok massa yang sering kali bekerja sama dengan negara sekaligus melanggar aturan. Pada dasarnya hadir di pelbagai penjuru tempat yang tidak terjangkau oleh hukum negara.

Seperti pada adegan pengusiran Ho Nam dari Hung Hing karena melanggar peraturan. Mr. Chiang berkata “Ada peraturan negara, namun kita punya peraturan keluarga.” Dalam dunia triad, peraturan negara seolah hanya menjadi aturan luar. Apakah hal ini relevan di seluruh kota besar di dunia? Bagaimana jika keberadaannya memang sengaja dipelihara untuk menangani berbagai urusan kotor yang tidak cocok dengan citra pemerintah? Mungkinkah hal seperti ini berkorelasi dengan kondisi riil di Indonesia?

Apapun jawabannya, Sosok Chan Ho Nam telah menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Indonesia era 90an. Tokoh idola alpha male yang jago berkelahi, memimpin geng dengan anak buah yang selalu siap menyerbu lawan dan akhirnya jatuh cinta pada seorang gadis manis yang mampu menjinakkan sang darah muda dan berbahaya. Sekilas plot seperti ini mirip dengan tokoh Dilan (2018) karya Pidi Baiq.

Young and Dangerous, sebuah cerita yang bisa dikategorikan sebagai kisah gengster picisan ala Hong Kong, namun melahirkan mitos tentang sosok impian. Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens percaya bahwa peradaban dunia terlahir dari pembentukan mitos. Maka bisa jadi kisah epos Hung Hing Boys merupakan perwakilan dari wajah asli peradaban manusia yang selalu Homo Homini Lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).