Sulit untuk tidak menyertakan nama Roufy Nasution dalam perbincangan tentang siapa sineas independen dari Bandung yang konsisten berkarya serta mendapat pengakuan dalam kancah nasional. Film-film arahannya telah melanglang buana ke berbagai festival, baik dalam maupun luar negeri. Sebutlah misalnya film Jeni Lova dan Barakabut: The Fire Longing For The Mist. Judul pertama diputar dalam gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016; sementara judul kedua lebih fenomenal, berhasil menyabet special mention jury award dalam ajang ReelOzInd Australia Indonesia Film Festival serta diputarkan dalam dua festival film prestisius: Seashorts Film Festival 2018 di Penang, Malaysia serta Images Forum Festival 2018 di Tokyo, Jepang. Pilihannya untuk menapaki jalur terjal—dari festival ke festival—ini juga bukan kebetulan. Selain karena sejauh ini kebanyakan karyanya merupakan film pendek, suatu format yang belum diakomodasi oleh bioskop arus utama kita, Roufy kerap memproduksi film dengan tema-tema serta langgam absurd, sesuatu yang akhirnya menjadi ciri kuat filmografinya.

Mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual dengan konsentrasi sinematografi, nampaknya dari sini tersirat mengapa Roufy sangat memperhitungkan urusan teknis serta gemar bermain-main dengan simbol. Unsur-unsur teknikal seperti ambilan gambar (shot), latar tempat, properti, dan nuansa perwarnaan nampak dipikirkan secara matang dan teliti. Sementara strategi naratifnya kerap mengandalkan simbolisasi, yang sering kali terasa absurd dan tidak mudah dicerna. Merupakan prestasi tersendiri apabila menonton film arahan Roufy tanpa mengernyitkan dahi atau calangap alias melongo.

Roufy memang terhitung produktif dalam mencipta karya. Jika dihitung-hitung sejak produksi film pertamanya pada tahun 2014, ia sudah menciptakan lebih dari lima belas karya gambar bergerak (moving image), baik dalam format film pendek maupun video musik. Bahkan, hingga tulisan ini dimuat, Roufy baru saja menuntaskan produksi film panjang pertamanya, The Boy With Moving Image.

Melalui tulisan ini saya akan coba memberi catatan terhadap film-film arahan Roufy yang tersedia secara daring di kanal-kanal streaming tak berbayar:

  • Luna (2015)

Ada empat sosok yang ditampilkan, dan masing-masing berperan sentral dalam film. Pertama, tukang dayung perahu dengan payung merah muda sebagai narator. Perannya merajut jalinan cerita yang dibangun film dengan penonton. Kedua, Luna. Perannya disini semacam latar tempat, sebuah lokasi. Jika dalam film horror latar tempat diwujudkan sebagai rumah angker, kuburan, atau daerah terpencil, maka dalam film ini Luna lah latarnya. Jalan cerita, rangkaian masalah, nuansa, sekaligus pemeran diborong oleh kehadiran Luna.

Sedangkan dua sosok terakhir hadir secara pasif—tidak diberikan porsi dialog—dalam satu bingkai foto: Seorang pria yang diyakini sebagai mantan kekasih Luna dan seorang pria berkepala kuda laut yang mengenakan gaun Louis Vuitton. Meski hadir secara pasif, keduanya dijadikan sasaran tembak pengisahan sepanjang film berjalan.

Aneh? Jelas. Apa maksudnya? Saya juga bingung. Mungkin saja ini merupakan proyek promosi Batu Cinta, salah satu situs dalam lokasi wisata Situ Patenggang—meskipun secara fungsional ia tidak dapat dikatakan sebagai latar tempat utama, karena, secara fisik, ia hanya ditunjukkan dalam satu adegan serta diterangkan lebih lanjut melalui teks deskripsi. Ada kesan anomali tentang perilaku umum gender yang diangkat di sini, namun perwujudannya sangat subtil. Misalnya penggunaan kepala kuda laut. Seperti diketahui, kuda laut merupakan spesies yang unik karena kuda laut pria yang melahirkan anak-anaknya.

  • Darapuspita Dianti (2015)

Ini kisah tentang Darapuspita Dianti, seorang wanita dengan dandanan jadul, mobil kuno, dan selera musik yang berhenti di tahun 60’an. Ia bekerja sebagai wartawan yang mendadak ditugaskan untuk mewawancarai seorang pesulap aneh, Ovydofy, di sebuah restoran miliknya. Dialog antara Darapuspita dan Ovydofy tampil jenaka, sekalipun terjalin secara absurd dan tidak nyambung.

Subjudul “Old Fashion Women In Modern Life” tidak berarti banyak dalam film ini, selain predikat yang disematkan tanpa makna apapun. Ada polarisasi yang kentara antara gaya busana Darapuspita yang seolah terjebak pada masa lampau dan gaya ke-jepang-jepangan yang dikenakan Sakura, pacar Ovydofy.

Cerita diakhiri dengan Ovydofy dan Darapuspita berdansa dengan lagu khayalan di tengah sawah. Apa maknanya? Saya kira ini sama susahnya dengan mencari narasi dalam karya lukis Jackson Pollock.

  • Jeni Lova (2016)

Lokal dan global, kira-kira itu yang bisa ditarik dari Jeni Lova. Identitas lokal ditampilkan dengan Bahasa Sunda sebagai bahasa utama, sedangkan para pendatang dari kota tidak memahami bahasa Sunda. Lokasi syuting diperkirakan di Pantai Santolo, Garut atau Pantai Karang Papak, Garut.

Terdapat penggambaran yang bertolak belakang terhadap perempuan “kota” dan “desa”. Jeni, perempuan “kota”, adalah penulis novel berjudul “Irrational Romance” yang butuh inspirasi untuk menyelesaikan bab terakhir novelnya. Ia digambarkan sebagai perempuan yang memiliki ambisi dan produktif. Sedangkan pacarnya, lelaki “kota”, hanya tampil sebagai peran pembantu yang mengantar, bimbang, dan diberi pelajaran oleh Jeni.

Apabila Jeni digambarkan ambisius, maka Lilis Melati, seorang pemilik Warung Sea Food Lilis digambarkan sebagai gadis desa pinggir pantai yang legowo dengan suaminya. Dalam dialog, Lilis bercerita tentang suaminya yang pekerja keras—walaupun Lilis tidak mengetahui kebenaran cerita tersebut—dan mau menerima Lilis yang sudah tidak perawan sebagai istri. Suatu masalah sepele yang hampir tidak ada artinya dalam kehidupan urban.

  • Elise and Unseen Foot (2016)

Simbol demi simbol, tentang keterikatan sosial yang digambarkan dalam lingkup domestik rumah tangga. Film ini hakikatnya bercerita tentang permasalahan rumah tangga, bukan perbedaan gender. Bilapun peran aktor dan aktris dalam film kita tukar posisinya, ruh cerita film akan tetap sama.

Jikalau muncul pendapat dari penonton bahwa film ini mengkritik budaya patriarki, maka Roufy nampaknya sukses untuk menyidir cara berpikir kolot masyarakat Indonesia.

Pilihan nama karakter dalam film ini, Elise dan Theresa, terasa tak lazim dalam perbendaharaan nama masyarakat Indonesia. Belum lagi karya kristik The Last Supper. Semua menandakan tentang budaya barat, kristen, dan progresif. Apakah penting suasana tersebut? Nampaknya akan sama saja, entah Barat, Timur, atau apapun. Masalah rumah tangga pada dasarnya sama saja.

  • Holy Moon (2017)

Cerita dibangun dengan proposisi tentang seorang anak rantau bernama Ramon yang percaya keajaiban. Berulang kali Ramon sebagai tokoh utama menyatakan imannya terhadap keajaiban dari dialog dengan tokoh lain: Pertama, dengan bos di tempatnya mengundurkan diri dari kerjaan. Kedua, dengan kedua orang tuanya, saat ia sedang kesusahan untuk mencari biaya untuk mudik. Ketiga, dengan seorang wanita pemain biola yang secara tidak sengaja ditemui saat jalan-jalan sore.

Wanita pemain biola yang ditemui Ramon bernama Aluna, seorang yatim piatu. Menurut penuturan kisah dari Aluna, ia juga mengimani keajaiban. Bahkan biola yang diperolehnya merupakan pemberian orang berkacamata hitam.

Saat sholat Maghrib, Ramon tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang tanpa diduga adalah pria berkacamata hitam yang diceritakan Aluna. Lalu wuzzz, pria tersebut hilang dan meninggalkan amplop berisi uang.

Sekalipun film ini dipenuhi adegan-adegan ganjil, dialog kaku, serta kondisi yang tidak logis, alur ceritanya bisa dijabarkan dan saling berkaitan. Babak-babak penceritaan tetap terjalin berurutan  dan mudah dipahami.  

  • The Hotel’s Water (2017)

Tentang hasrat yang terpendam, keleluasaan terhadap objek yang tidak dimiliki namun tokoh utama mempunyai kewenangan untuk mengeksploitasi semaunya. Bebas saja, di antara sekat pintu, maka yang terjadi hanya akan diketahui oleh orang yang mengalami.

Sebuah teko kaca berisi air bening menjadi simbol yang seolah penyebab ketidakberdayaan. Setidaknya itu yang coba digarisbawahi Roufy dengan judul The Hotel’s Water. Tidak cukup dengan menggambarkan teko kaca berisi air, teko tersebut bertuliskan “The Hotel’s Water”. Sebuah upaya pleonasme yang membuat kita mengaruk-garuk kepala.

  • Sweetness Satan (2017)

Tentang perjalanan seseorang yang kehilangan. Cerita pendek ini digambarkan seperti puisi orang yang sedang mengalami gejolak libido. Air terjun, pergi ke hutan, bertemu dengan sesosok perempuan cantik yang mau diajak jalan. Lalu terbangun dan kehilangan semuanya.

Kenapa si perempuan dianggap setan? Kalaupun setan, kenapa manis? Karya absurd ini dikemas secara komedik, yang beberapa punchline-nya cukup mengena. Komedi absurd tentang cinta, kehilangan, dan hasrat yang membuncah.

  • Barakatbut: The Fire Longing For The Mist (2018)

Karya ini memiliki dua versi publikasi: Pertama, dalam laman viddsee yang diberikan oleh Roufy sendiri, film ini berjudul Barakabut: The Fire Longing For The Mist dengandurasi sekitar 11 menit. Sedangkan dalam laman youtube Drupadi.ID, durasinya disunat menjadi sekitar 6 menit dengan judul Drupadi Melantun 02 – Bima’s Dream. Film ini merupakan bagian dari 3 segmen dari Musik Video Drupadi Melantun. Konsep yang ditampilkan dari karya musik video karya Sujiwo Tejo (Tejo Laras Madya Fondation) adalah gabungan teater, tari, karya seni dan tentu saja film.

Kolaborasi dengan kelompok seniman tentu menghadirkan warna yang berbeda. Gaya visual Roufy mengalami peleburan dengan gerak dan tari yang sangat teaterikal. Hal unik disini adalah aspek tradisional dalam penggambaran wujud wayang sama sekali dihilangkan. Seolah karya ini mencoba untuk memberi pemaknaan baru tentang hikayat Drupadi. Dengan busana dan simbol karya seni artistik kontemporer, Drupadi dicoba diceritakan ulang. Apabila tidak membaca sinopsis filmnya terlebih dahulu, sangat besar kemungkinan penonton kehilangan makna yang hendak disampaikan. Film ini sarat akan karakteristik film arthouse, bukan untuk penonton umum yang mengharapkan cerita yang ajek dan jelas.

  • If, Why, If (2020)

Kesederhanaan, tanpa tata ruang yang mumpuni, menjadi aksen kuat If, Why, If. Ide dasar film ini adalah tentang dua peristiwa berbeda, namun keduanya memiliki struktur narasi yang sama: Tentang dialog yang terjalin akibat seorang perempuan meminta tolong kepada seorang pria untuk membukakan tutup botol minumnya. Dari dialog yang terjalin itulah narasi film terbangun.

If, Why, If tampil ringan saja, tanpa metafora yang berlebihan. Roufy nampaknya sudah mampu menerapkan chekhov’s gun, sebuah prinsip dramaturgi yang runut dan tiap adegan berkaitan dengan hal lainnya.

Kemudahan untuk dicerna tidak menjadikan If, Why, If sebagai film picisan semata. Tidak seperti film-film sebelumnya, pada If, Why, If ambiguitas tidak hadir merongrong dalam setiap aspek yang tampil; ia tampil setelah keseluruhan film selesai ditonton. If, menjadi premis besar tentang makna apa yang berusaha ditampilkan dalam film ini. Bisa jadi membuat film sederhana dan relateable merupakan tantangan tersendiri yang perlu diolah bagi sutradara muda seperti Roufy Nasution.

Roufy Nasution dan Karya-Karyanya

Hampir semua karya Roufy merupakan hibrida antara film dengan video art. Yang dimaksud “art” disini sejalan dengan kutipan Theodore Adorno dalam buku Minima Moralia: Reflections from Damaged Life: “Tugas seni adalah membawa kekacauan dalam tatanan yang mapan”. Dalam kaca mata ini, kita dapat melihat bahwa film-film garapan Roufy sedang mengerjakan mandat yang disematkan Adorno pada seni (art) tersebut. Roufy tidak turut berjalan dalam kemapanan tema maupun langgam film-film populer di Indonesia, alih-alih ia memilih jalan tidak populer dengan langgam serta tema-tema yang tidak umum bagi penonton Indonesia—yang cenderung konservatif. Caranya yang absurd dalam penyampaian cerita, pembangunan dialog, serta penokohan terbilang menyimpang dari kemapanan strategi naratif mayoritas film-film populer Indonesia yang bertumpu sepenuhnya pada elemen naratif-verbal, disertai batas penokohan yang serba tegas, sebagai mesin penggerak cerita. Simbol-simbol yang dipergunakannya sukar dibaca dengan logika umum. Narasi yang dipaparkannya juga sering terasa samar dan kerap disorientasi sepanjang film.

Menurut saya, jika menilai tingkat “keanehan” film Roufy, If, Why, If menempati urutan terendah hingga Darapuspita Dianti untuktingkat keanehan tertinggi. Keanehan yang saya maksud adalah absurditas film dinilai dari segi cerita, dialog dan keterkaitan holistik film.

If, Why, If terbilang sederhana karena tidak menggunakan metafora berlebih. Dialog dan pembabakan cerita mudah dimengerti dan memiliki hubungan sebab-akibat yang jelas. Hal menonjol yang membuat film If, Why, If unik adalah cara penceritaannya yang seolah mengambil dua take dengan lokasi yang berbeda, namun memiliki struktur kejadian yang nyaris serupa. Film lain yang menawarkan pembabakan yang tuntas adalah Holy Moon. Sekalipun di tengah film diisi dengan kejadian-kejadian ganjil, namun masalah yang ditawarkan di awal cerita—butuh uang untuk mudik—diselesaikan di akhir film dengan adegan dimana tokoh utama diganjar rejeki nomplok.

Film Roufy yang termasuk sukar untuk dipahami adalah Hotel’s Water. Sebuah film yang berisi monolog tokoh utama yang menemukan wanita yang tertidur di sebuah kamar hotel. Sebenarnya wajar saja narasi cerita film ini, tetapi keseluruhan film tidak mengarahkan penonton pada suatu sugesti tertentu. Begitu pula yang terjadi dalam Darapuspita Dianti. Film ini tidak mudah untuk dipahami. Terasa ada upaya kesengajaan untuk menampilkan kesan film yang ganjil. Keanehan cerita di film ini menimbulkan nuansa jenaka yang unik, suatu kesan yang justru timbul karena absurditas yang terbangun sepanjang film berjalan.

Berbeda dari yang lainnya, Barakabut: The Fire Longing For The Mist sedari awal film berjalan sudah terasa aroma “art house”-nya dengan tidak menggunakan dialog, atribut kostum yang sangat nyeni, hingga tari-tarian dan olah tubuh yang teaterikal. Film ini merupakan antologi dari bagian cerita yang lebih panjang, atau dengan kata lain, film ini bukanlah bukan sebuah film otonom. Sehingga untuk membandingkannya secara apple to apple dengan film Roufy yang lain, akan terkendala dengan bias faktor lain.

Ciri khas dan idealis tentu bisa menjadi autograph seorang seniman. Namun sebuah idealisme pasti akan bersinggungan dengan respon masyarakat. Kemampuan idealisme yang bisa diterima adalah tantangan tersendiri bagi seorang sineas idealis macam Roufy, sekalipun karya-karya Roufy bisa dibilang laku dan disukai dalam kalangan tertentu.

Film garapan Roufy memang sukar untuk dicerna oleh penonton umum, tipikal penonton yang menonton hanya sebagai sarana hiburan semata. Meski begitu, ada kemungkinan terbuka apabila suatu saat nanti, salah satu film Roufy dilirik sebagai film yang unik sekaligus menarik dimata masyarakat umum. Hal tersebut dimungkinkan karena Roufy bukanlah seseorang yang kaku dalam berkarya. Semangat eksplorasi terasa dalam tiap karyanya. Dinamika dalam karya Roufy pun sudah terlihat dari spektrum perbedaan antara If,Why,If dan Holy Moon yang minim metafora hingga Luna, Darapuspita Dianti, dan Elise and Unseen Foot yang padat simbol. Mungkin itulah sebabnya, Ganesha Film Festival—salah satu festival film independen yang dapat dibilang “tua” di Kota Bandung—terlihat menaruh perhatian besar pada karya-karya Roufy. Dalam tiga gelaran terakhirnya, film Roufy tidak pernah absen dalam sesi “Bandung Nu Aing!”. Hal ini menarik, mengingat belum ada sineas Bandung lainnya yang bisa sekonsisten Roufy.

Sangat memungkinkan bila suatu saat nanti Roufy merubah gaya berkaryanya, mengingat metamorfosis merupakan hal lumrah. Yang lebih penting adalah mengalami pembaharuan terus menerus dan konsistensi berkarya. Sebagai sineas Bandung yang konsisten berkarya hingga hari ini, Roufy tentu mempunyai peluang besar untuk melahirkan sebuah karya fenomenal di masa mendatang.

Editor: Damar Bagaskoro