Beberapa hari terakhir berita mengenai Adhisty Zara dan Zaki Pohan mendominasi daftar trending topic internet. Isu ini dibahas dengan “meriah dan dramatis” di mana-mana. Bahkan netijen yang budiman tanpa tedeng aling-aling melontarkan hujatan kepada orangtua Zara karena dianggap tidak becus mengurus anak. Melihat keriuhan itu, sepertinya memang pandemi covid-19 berhasil mengangon penonton dari tayangan sinetron atau film ke teater raksasa bernama “media sosial”.

Adhisty Zara pertama kali dikenal publik sebagai salah satu anggota grup idolawaralaba dari jepang: JKT48. Zara memulai karirnya di dunia perfilman semenjak mendapat peran sebagai adik Dilan dalam film Dilan 1990 (Fajar Bustomi & Pidi Baiq, 2018) Semenjak itu karier Zara di dunia perfilman semakin moncer. Ia kemudian membintangi sejumlah film laris, misalnya Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2018) dan Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019).

Lahir pada tahun 2003, Zara yang saat ini masih berusia 17 tahun, harus menghadapi penghakiman massal di jagat internet. Gaya berpacaran Zara-Zaki dianggap melewati batas “kepatutan publik” karena menampilkan aksi tidak senonoh di muka publik, apalagi di usia sebelia itu. Segala urusan cercaan tersebut berlanjut hingga para selebritas dan figur publik lainnya angkat bicara. Khalayak lalu berspekulasi dan mempergunjingkan berbagai hal, termasuk mengenai pendidikan anak yang ideal, serta nasib karier Zara, dan ancaman pemutusan kontrak kerja.

Terlepas dari urusan Zara yang dituding tidak sesuai dengan wajah bangsa yang “santun dan ketimuran”, ada fenomena yang saya anggap menarik. Sekalipun jumlah produksi tayangan (film, acara tv, dll.) sangat menurun dan bioskop ditutup, khalayak tidak bisa berhenti menonton. Beriringan dengan melonjaknya aktivitas menonton di ruang-ruang privat ―misalnya melalui kanal-kanal streaming―fungsi media sosial sebagai ruang menonton, ditonton, dan mempertontonkan sesuatu nampaknya menjadi semakin dominan. Berbagai figur publik yang menyadari pergeseran itu bergegas mendistribusikan kontennya ke platform yang lebih personal seperti Tik-tok, Instagram, dan Youtube. Di saat bersamaan, pergeseran ini semakin memuluskan kebiasaan nyinyir dan julid warganet dalam mengomentari segala sesuatu yang terjadi, seolah-olah warganet tengah membagikan spoiler dan ulasan atas tontonan.

Dalam industri hiburan, berbagai kasus memperlihatkan bagaimana seorang figur publik yang sebelumnya menjadi target cercaan nasional, lantas berbalik menjadi “bintang” karena kontroversinya dianggap efektif menjadi magnet atensi dan perbincangan publik. Kebiasaan ini tidak dapat dilepaskan dari kecenderungan warganet yang impulsif “melompat ke kesimpulan” dan menghakimi. Warganet kerap mengeluhkan perkara “bobroknya akhlak”, serta menurunnya kualitas tontonan ala sinetron Indonesia.  Padahal mereka jugalah pihak yang dengan sukarela meluangkan waktu untuk mengomentari hal-hal tidak bermanfaat yang berseliweran di media sosial.

Drama tidak lagi hadir dalam bentuk narasi di sebuah film, namun sudah bertransformasi menjadi sensasi-sensasi “drama” keseharian, baik tidak disengaja maupun sengaja dibuat-buat untuk mendapat atensi publik. “Konten” berlomba-lomba diproduksi ―misalnya ketika seorang Youtuber yang melakukan prank sampah saat bulan Ramadhan―, drama asmara figur publik, dan lain sebagainya. Setelah membuat kontroversi diciptakan lagi “konten” lainnya sebagai tayangan klarifikasi. Tontonan “the (un)reality show” menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat umum.

Netijen Indonesia agaknya mirip atau bahkan sebuah representatif dari para babushka yang gemar bergosip, sehingga fungsi pengawasan dan kontrolnya lebih efektif dari CCTV. Dari cerita-cerita yang sedang ramai dibicarakan para warganet bisa menggali informasi lebih cepat dari polisi atau jurnalis tulen. Tentu saja sepaket dengan kesalahan dan misinformasi. Warganet lain lalu akan secara sukarela menambahkan informasi dan opini. Alih-alih terang-benderang, berita tersebut kian samar akibat informasi yang saling tumpang-tindih dan kontestasi “kebenaran”. Namun, bukankah memang ini yang disebut era post-truth dan kebebasan berpendapat?

Alih Medium

Era internet yang melahirkan begitu banyak layar (“screen”) telah menggantikan setengah fungsi bioskop atau pertunjukan masal. Yang dimaksud dengan setengah fungsi disini adalah peran utama dari bioskop, yaitu menampilkan suatu pertunjukan untuk dinikmati banyak orang. Sekarang, memindahkan layar ke dalam rumah atau layar gawai bukanlah suatu hal yang sukar. Walaupun kebutuhan untuk bersosialisasi secara langsung masih belum tergantikan.

Merilis film di layanan streaming berbayar tidak bisa serta-merta menggantikan layar-layar bioskop. Hal ini tentu sangat mempengaruhi produktivitas para pelaku industri film. Siapa yang sudi untuk menjadi kelinci percobaan untuk menayangkan filmnya di era pandemi ini?  Bayangkan bioskop yang kembali dibuka dengan mengikuti protokol kesehatan. Maka bioskop wajib menjaga jarak antara satu penonton dengan penonton yang lain, antara penonton harus diselingi oleh kursi kosong. Kondisi ini berarti kapasitas maksimal bioskop adalah setengah dari jumlah kursi. Tentu ini secara langsung mempengaruhi pendapatan film tersebut.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana aktivitas menonton di bioskop dan di ruang-ruang privat―dengan menggunakan gawai―saling memengaruhi? Apa yang terjadi pada dunia perfilman saat pandemi tuntas nanti? Akankah okupansi bioskop seperti sedia kala, ataukah kita sudah terlanjur terbiasa dengan aktivitas menonton di arena privat (“Netflix and chill”)? Apakah seiring berlangsungnya pandemi, semakin tidak ada bedanya antara menonton film dan menonton (un)reality show dalam kehidupan keseharian kita, seperti yang diramalkan oleh Walter Benjamin “sense of the universal equality of things”? Mungkinkan kita akan kian terbiasa “menonton drama apapun”, hingga seakan tidak ada lagi perbedaan signifikan antara menonton Zara sebagai Dara di Dua Garis Biru, dengan “peran”-nya dalam hidup keseharian yang kita ketahui lewat internet?

Tilik

Dalam budaya internet, viral dan meme adalah dua kata kunci lain yang tidak kalah penting dari informasi: sumbernya kerap kali tidak jelas, penyebarannya tidak beraturan, dan saling menerobos. Sekalipun berkesan remeh, meme justru berfungsi efektif dan praktis dalam menyebarkan ide.

Selain isu mengenai Zara dan Zaki, dari dunia film Indonesia juga muncul film yang ramai diperbincangkan orang. Film pendek berjudul Tilik (Wahyu Agung Prasetyo, 2018) diunggah melalui kanal Youtube Ravacana Films pada tanggal 17 Agustus 2020. Dalam hitungan hari Tilik telah menembus angka 3 juta penonton. Film ini sebenarnya sudah beredar di berbagai festival film sejak tahun 2018, bahkan sudah memenangkan beberapa penghargaan. Tentu hal ini dieskalasi karena beberapa tokoh perfilman seperti Joko Anwar turut mempromosikan film Tilik.

Keseharian yang bermetamorfosis dalam bentuk cerita pendek berdurasi kurang lebih 30 menit ini begitu mengena dan mendapat respon positif para penikmat film. Sontak saja fenomena viral film Tilik melahirkan meme-meme baru dalam segala bentuk turunannya. Film Tilik memotret secara jenaka sekaligus menghardik kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar menghakimi secara serampangan.

Berbeda dengan nasib film Kucumbu Tubuh Indahku (Memory of My Body) karya Garin Nugroho yang bahkan dipetisi akibat tudingan “merusak generasi muda”, Tilik diterima dengan “tangan terbuka”. Padahal Film Kucumbu Tubuh Indahku juga memotret realitas masyarakat Indonesia. Barangkali yang menjadi permasalahannya adalah karena film Kucumbu Tubuh Indahku menggugat heteronormativitas yang kental di Indonesia.

Dari segi cerita film Tilik ini menyentil keseharian para netijen Indonesia. Bercerita tentang gosip yang beredar tentang seorang kembang desa bernama Dian yang disinyalir menjadi “perempuan tidak benar”. Hampir seluruh adegan berlangsung diatas truk. Konflik terjadi antara Bu Tejo yang gemar “berspekulasi”  dengan Yu Ning yang bersikap “hati-hati” atas gosip yang beredar tentang Dian. Film ini dengan jeli mengolok-olok apa yang kita puja di zaman ini: informasi.

Hanya dengan melihat rentetan isu aktual di internet dalam beberapa hari ini saja, saya sudah merasa khawatir. Bahwasanya dalam hidup keseharian, kepekaan pada kompleksitas, kekritisan dan kehendak untuk menunda kesimpulan pada akhirnya dikalahkan oleh prasangka dan penghakiman sebagaimana “solusi” ala Bu Tejo.