Notice: Only variables should be passed by reference in /home/bahasine/domains/bahasinema.com/public_html/wp-content/themes/15zine/option-tree/ot-loader.php on line 329
Maudie: Kecintaan Terhadap Sesuatu yang Berbeda

Maudie yang mukanya mirip Yubaba dari film Spirited Away (Hayao Miyazaki, 2001) merupakan salah satu pelukis terkenal dari Kanada. Karya lukisnya terkenal dengan bentuk warna-warna cerah dan naif. Maud Lewis memiliki badan yang bungkuk dan berjalan pincang. Penyakit rematik akut yang dideritanya sejak masih muda membuat bentuk tangannya terlihat aneh.

Film Maudie dibuka dengan cerita bagaimana Maud (Sally Hawkins) bisa bertemu dengan Everret Lewis (Ethan Hawke). Secara tidak sengaja Maud mendengar percakapan Everret dengan penjaga toko kelontong. Rupanya Everret membutuhkan pengurus rumah tangga, Maud langsung mengambil kesempatan tersebut untuk melamar bekerja kepada Everret.

Everret adalah seorang nelayan yang tinggal sendirian di sebuah rumah kecil. Sembari bekerja sebagai pengurus rumah tangga, Maud juga sering melukis di waktu luang, lukisannya tersebar di berbagai pojok rumah Everret, dinding, kertas, kayu dan pelbagai media lainnya.

Di tengah rutinitas Maud sebagai pengurus rumah tangga Everret, secara tidak sengaja Maud berkenalan dengan Sandra. Sandra adalah seorang perempuan kaya yang tertarik pada lukisan Maud. Semenjak itu lukisan Maud mulai terkenal dan dilirik oleh media massa hingga beberapa di antaranya menjadi koleksi White House di era Nixon.

Namun demikian, lukisan Maud terlihat sangat sederhana dan jauh dari komposisi teknik melukis yang mumpuni. Yang dimaksud mumpuni disini adalah jenis lukisan yang memiliki kedalaman ruang, pencahayaan chiaroscuro seperti layaknya lukisan Rembrant, Caravaggio, Leonardo da Vinci atau Jan Matejko. Untuk urusan bentuk, karya Maud tidak memiliki bentuk yang detail. Lukisannya hanya berupa ilustrasi sederhana terhadap objek, datar tanpa bayangan.

Bahkan, seorang penjual toko klontong di Dingis (desa tempat Everett dan Maud tinggal) mengkritik lukisan Maud tidak lebih baik dari lukisan seorang anak kecil 5 tahun. Kira-kira demikianlah cara pandang sutradara Aisling Walsh untuk menceritakan bentuk karya Maud Lewis di film Maudie (2016). Film yang bergenre biografi drama bercerita tentang kisah kehidupan Maud Lewis di Nova Scotia, Kanada.

Memang lukisan Maud sangat naif dan kekanakan, namun ada sesuatu unsur pembeda. Apabila ditelisik lebih lanjut, kita akan paham dan menyadari perbedaan arti “naif” karya Maud dan karya anak kecil.

Lukisan Maud walaupun tampak sederhana, namun kita akan langsung teringat pada ilustrasi kartu-kartu natal pada masa sebelum smartphone merajalela. Kartu ucapan hadir pada masanya sebagai salah satu instrumen penting ritus hari perayaan seperti contohnya natal, paskah, thanksgiving, dan lain sebagainya.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa lukisan Maud terasa begitu menarik dan menggugah emosi? Mengapa manusia justru menyukai lukisan dari seseorang yang memiliki gaya gambar “deform”? Apakah sosok seniman menjadi penentu nilai sebuah karya, mengingat Maud Lewis memiliki fisik yang tidak normal dan buruk rupa?

Mungkin bisa saja orang akan menuduh dengan mudah, bahwa lukisan Maud terkenal hanya karena  mengeksploitasi kehidupan si seniman. Dengan bentuk badan yang “perlu dikasihani”, kemiskinan dan hidup yang bersahaja maka otomatis akan menjadi nilai jual tersendiri dari karya yang ditampilkan. Perlu diakui untuk beberapa pelukis tenar yang lain, riwayat hidup mereka terkadang  mempengaruhi nilai dari karya yang mereka buat.

Tetapi apa benar hanya dengan mengeksploitasi pribadi Maud Lewis maka lukisannya menjadi berharga? Seorang neurosains V.S Ramachandran mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut dan dikaitkannya dengan peninggalan arkeologi patung-patung batu prasejarah yang ditemukan dipelbagai belahan dunia.

Dengan mengamati tingkah laku burung camar Hering, profesor Ramachandran menemukan kesamaan antara insting dasar anak burung camar yang baru menetas dengan perilaku manusia pada jaman pra sejarah. Anak burung camar secara instingtif akan mematuk-matuk bentuk yang menyerupai paruh induknya (batang es dengan polet merah) bahkan menunjukan agresivitas lebih tinggi terhadap bentuk yang dilebih-lebihkan (batang es dengan dua polet merah).

Manusia prasejarah sekalipun tersebar di tempat yang berbeda-beda di seluruh penjuru bumi, namun memiliki insting dasar yang serupa. Peninggalan mereka berupa patung sosok perempuan memiliki kesamaan bentuk secara umum.

Patung peninggalan prasejarah itu tidak memiliki detil wajah yang jelas. Namun terlihat gemuk pada perut, memiliki bokong dan payudara yang juga besar. Patung-patung tersebut tidak menggambarkan lengan dan kaki secara detail, hanya berbentuk seperti batang tanpa telapak dan jari-jari. Jika menarik postulat sederhana ala pisau cukur Ockham maka keinginan dasar manusia dengan burung camar Hering memiliki kesamaan, yaitu hasrat untuk melebih-lebihkan.

Mungkin ini adalah salah satu analisa sederhana yang bisa menjadi kesimpulan tentang bagaimana karya Maud bisa mencuri perhatian masyarakat urban Amerika Utara. Selain bercerita tentang biografi seorang Maud Lewis, film ini juga menawarkan perenungan tentang makna yang terkandung dari gaya lukisan sederhana Maud Lewis.

Maudie sebuah cerita drama dokumentari yang mengajak penonton untuk mengenal sosok pelukis Kanada, Maud Lewis. Selain menawarkan kisah romantis, film ini juga menawarkan sketsa kehidupan seorang yang termarjinalkan namun beruntung untuk bisa menikmati romansa menjadi seorang perempuan yang dicintai.