Satu dekade bukanlah rentang waktu yang singkat. Empat ribu delapan belas hari telah kita lalui sepanjang rentang tahun 2010-2020. Tentu saja ini bukan hanya persoalan angka-angka. Begitu banyak perubahan yang terjadi sepanjang sepuluh-sebelas tahun terakhir, apalagi bila kita mengingat tendensi pesatnya perkembangan dunia abad 21. Begitu pula dengan kedirian kita sebagai individu yang telah menua dan mengalami berbagai hal selama kurun waktu itu. Kedirian kita di awal 2021 tidak lagi sama dengan saat di akhir 2009.

Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang secara signifikan memengaruhi hidup keseharian kita. Misalnya, bersamaan dengan semakin terjangkaunya perangkat teknologi perekaman audio-visual, geliat pembuatan film pendek menandai awal dekade lalu. Komunitas-komunitas film di Bandung pun kian marak. Layar-layar komunitas menghadirkan tontonan alternatif dari bioskop-bioskop di pusat perbelanjaan kota ini. Pada pemutaran komunitas, lepas menonton, film dapat bersama-sama “dipergunjingkan”.

Dekade lalu “ditutup paksa” oleh pandemi. Kondisi pandemi tidak hanya membuat kita memikirkan kembali berbagai hal yang dahulu hanya dilalui begitu saja, kita pun dipaksa untuk mengubah cara hidup sebelumnya. Dan teknologi kembali memainkan peranan besar dalam proses adaptasi ini. Kita semakin terbiasa menonton film dari ruang-ruang privat dengan layar-layar berukuran kecil. Seperti film yang “membekukan” ruang-waktu agar dapat diputarkan di berbagai tempat, kini kita pun kian fasih “membenamkan” diri dalam layar agar dapat bertemu dan berinteraksi dengan manusia lain. Diri kita direproduksi dan didistribusikan melalui layar. Kita menonton sekaligus ditonton. Kita adalah penonton, yang sekaligus pula menjadi tontonan.

Re-watching the last decade” atau Memutar Ulang Dekade adalah program pemutaran yang menghadirkan sebelas film yang dirilis dalam rentang tahun 2010-2020. Langkah kita memasuki dekade baru di tahun 2021 ini, apalagi dalam kondisi pandemi, menjadi semacam kesempatan untuk merefleksikan dunia, termasuk memikirkan kembali waktu-waktu yang telah berlalu. Dengan menonton film, masa lampau hadir kembali di saat ini, sembari menghidupkan ingatan dan perasaan. Film tidak hanya “mengabadikan” ruang-waktu dalam derasnya gerak arus perubahan, melainkan juga memungkinkan memori kolektif dan pengalaman personal diartikulasikan, serta dimaknai secara baru. Bersama film, kita berdialog dengan dunia.

Berangkat dari visi tersebut, saya dan Damar Bagaskoro mulai melakukan proses kurasi. Tentu saja tidak mudah memilih sebelas film dari sekian banyak karya film pendek Bandung yang dirilis pada kurun waktu ini. Kami mempertimbangkan berbagai hal, sembari terus memperhatikan “dunia” yang disuguhkan dalam suatu film, sekaligus keterkaitannya dengan dunia realitas di luarnya. Poin yang terakhir ini, tidak hanya mengacu pada “iklim” perfilman ketika karya tersebut diproduksi (ekosistem perfilman, komunitas film, kemutakhiran perangkat teknologi, dll), melainkan juga relevansinya dengan konteks ruang-waktu, termasuk segala persoalan sosial dan fenomena yang muncul di suatu masa.

Pemutaran dan diskusi daring programasi ini terbagi menjadi tiga. Pertama, film-film tahun 2010-2014 (Paranoia, It’s Your Wedding Day, Penghulu, Threeweeks: a Story Begins, dan Whispering Box). Sesi ini diberi tajuk “Realitas dan Persepsi Atasnya”. Kedua, film-film tahun 2015-2018 (Bandung Survivor, Awal: Nasib Manusia, dan What’s Wrong with My Film?), dengan judul sesi “Gugatan atas Tatanan”. Dan terakhir, film-film tahun 2018-2020 (Barakabut, Kasiterit, dan Commentary Tracks) bertajuk “Pertanyaan atas Sekat-sekat”.

Kami amat menyadari limitasi dan hal-hal paradoksal yang tidak dapat dihindari dari proses ini. Terpilihnya sebelas film ini menjadi semacam representasi, namun sekaligus pula “keterwakilan” ini tidak akan pernah memadai dalam mencerminkan film-film Bandung selama sebelas tahun ini. Bahkan amat mungkin, pemilihan kesebelas film ini justru mereduksi banyaknya karya, berikut beragamnya kisah yang dihadirkan. Bagaimana mungkin kompleksitas dunia yang direkam oleh berbagai film, kemudian dikerucutkan hanya menjadi sebelas film?

Dari sini saja, sudah terjadi limitasi ganda. Pertama, realitas yang ditampilkan dalam film, tidak sama dengan realitas itu sendiri. Ketika sesuatu tidak hadir dalam layar dan tidak dibicarakan oleh film, bukan berarti sesuatu tidak ada. Kedua, hanya karena tidak termasuk dalam kesebelas film ini, bukan berarti karya tersebut kurang signifikan, serta problematika yang dibicarakannya tidak ada dan tidak penting. Sangat mungkin yang terjadi adalah persis sebaliknya, dan itu adalah akibat dari terbatasnya pemahaman atau kealpaan saya dan Damar. Sebagaimana tajuk sesi pemutaran pertama “Realitas dan Persepsi Atasnya”, saya menyadari betul bahwa realitas selalu jauh melampaui persepsi kita yang amat sempit ini.

Pemilihan lingkup Bandung sendiri tidak lepas dari dilema. Di satu pihak, saya hendak berangkat dari lingkup lokal yang “dekat” dan sehari-hari, setidaknya bagi saya sendiri. Saya percaya bahwa hal-hal keseharian yang familiar semacam ini adalah “pintu masuk” untuk menemukan kompleksitas.  Di lain pihak, titik berangkat ini juga dapat dicurigai sebagai manifestasi wacana besar. Sebenarnya apa itu film (komunitas) Bandung? Secara lebih mendasar, kita dapat mempertanyakan juga, Bandung dalam pemutaran ini diposisikan dan dimaknai sebagai apa? Bahkan sangat mungkin, menetapkan Bandung sebagai batasan malah memberikan kesan “chauvinis” dan hanya asik bermain-main di kandang sendiri.

Saya teringat kembali dengan catatan kuratorial Irvan Aulia untuk Santos Bandung Film Festival (SBFF) di tahun 2017. Sebagai kurator, ia berupaya menampilkan sebanyak-banyaknya “wajah” Bandung kepada penonton di Santos, Brazil, sekaligus penonton Bandung sendiri. Dalam proses kurasi itu, Irvan juga memilih untuk tidak membakukan definisi mengenai film Bandung, pun tetap membiarkannya terbuka dan cair. Di titik itu, saya relatif bersepakat dengan Irvan.

Bagi saya sendiri, tajuk ketiga sesi pemutaran-diskusi tersebut bagaikan pisau bermata dua. Dengan memilih kesebelas film ini, lantas membaginya ke dalam tiga sesi pemutaran dan diskusi, bukankah saya sebenarnya tengah menciptakan semacam tatanan dan sekat-sekat berdasarkan persepsi saya sebagai juru program? Di saat bersamaan, paradoks ini dapat pula dimaknai sebaliknya, bahwa saya tengah berupaya melakukan otokritik dan dengan “tangan terbuka” mengungkapkan limitasi ini. Melalui programasi ini, saya seperti tengah bermain-main dengan membangun istana pasir, sambil dengan gembira membiarkan ombak menghancurkannya.

Diadakan kurang lebih empat belas bulan pasca pemberlakuan status pandemi, “Re-watching the last decade” mengusung konsep pemutaran hibrida: luring dan daring. Pemutaran luring telah berlangsung pada 23 dan 29 April lalu di Gedung deMajestic, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Pada pemutaran luring tidak ada sesi diskusi, karena saya memilih untuk menyatukan sesi diskusi dalam format daring. Dengan berbasis daring, pemutaran-diskusi ini dapat diakses oleh penonton dari berbagai belahan dunia mana pun―tidak lagi terbatas pada penonton yang berdomisili di Bandung seperti dalam pemutaran luring―. Di satu pihak, karena pandemi kita terindividuasi, pun tubuh kita “diisolasi” di ruang-ruang privat. Di lain pihak, kita dibebaskan dari limitasi fisik spasial, sembari tetap dimungkinkan untuk memelihara kolektivitas dan dialog.

Bak pengemudi yang sesekali melihat ke belakang melalui spion sambil terus menjalankan kendaraannya maju ke depan, saya membayangkan lewat programasi ini kita bisa bersama-sama melihat kembali satu dekade ke belakang, serta memikirkan-memaknai ulang berbagai hal. Melalui hal-hal yang tidak habis diperbincangkan itu, kita membuka berbagai kemungkinan, dan membiarkan diri kita terus berproses dalam situasi “menjadi” (becoming).