Notice: Only variables should be passed by reference in /home/bahasine/domains/bahasinema.com/public_html/wp-content/themes/15zine/option-tree/ot-loader.php on line 329
Cinta dan Keluarga Heteronormatif dalam Revolutionary Road (Bagian 3)

Kelaziman dan Pilihan

Pada suatu ketika, selepas pertengkaran dengan Frank, April memikirkan ulang hubungannya dengan Frank. Ia akhirnya menyadari bahwa hidup keluarga mereka, meski dianggap ideal oleh orang lain, sebenarnya berjalan tidak sesuai dengan impian mereka. April terpaksa melepas impiannya dan terkurung di rumah. Sementara itu, Frank sendiri bahkan tidak pernah benar-benar tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Kemapanan yang dimiliki oleh Frank sebenarnya tidak lebih dari sebuah kemonotonan. Meski mulanya ragu-ragu, Frank menyetujui ide April untuk pindah ke Perancis. Di sana April akan bekerja di kedutaan, sementara Frank dapat belajar dan menggali kembali passion-nya.

Rekan-rekan Frank di kantor menertawakan ide itu dan menganggapnya tidak realistis. Dengan kata lain, realistis berarti adalah hidup patuh pada sistem dan apa yang dianggap kelaziman. Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah ideologi memang bekerja secara halus dan terselubung melalui common sense dan (apa yang dianggap) kelaziman dalam hidup keseharian. Keluarga Campbell terkejut dan mereka membicarakan Wheeler di belakang. Shep menganggap laki-laki macam apa yang hidup dari penghasilan istrinya. Reaksi keluarga Campbell menunjukkan bahwa masyarakat sulit menerima kondisi ketidaklaziman di luar “aturan main” heteronormativitas: laki-laki tidak boleh tidak menjadi tulang punggung keluarga, dan harga diri laki-laki ditentukan dari itu.

Satu-satunya orang yang memahami Wheeler hanya tetangga mereka, John. Seorang ilmuwan matematika yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. John bahkan mengapresiasi kesadaran dan keberanian Wheeler untuk keluar dari dunia modern yang (sebenarnya) hampa dan putus asa. Sosok John yang mendapat label tidak waras dari masyarakat menjadi representasi dari orang yang keluar dari sistem dan norma. Keluar dari sistem dan norma mengandaikan adanya jarak, dan karena itu pula John mendapat “hukuman” dari sistem dengan menjadi the outsider. Butuh “ketidakwarasan” untuk berani keluar dari “kelaziman” heteronormativitas. Setelah berbincang dengan John, April dan Frank berkelakar dan sepakat bahwa mereka siap dianggap gila jika itu memang harga yang mesti mereka tukar dengan keluar dari hidup yang hampa dan putus asa.

Kebebasan dan Ketercerabutan

Revolutionary Road memiliki tagline “How do you break free without breaking apart?”. Dari tagline itu kita sudah bisa menduga jika Revolutionary Road bukanlah film yang menampilkan “optimisme” sebagaimana yang kerap disajikan oleh film-film Hollywood umumnya.

Semangat April dan Frank untuk keluar dari sistem heteronormativitas dihadapkan dengan kenyataan bahwa April hamil dan Frank mendapatkan promosi jabatan dari perusahaannya. Meski membenci pekerjaannya, Frank tetap tergiur dengan kenaikan jabatan yang akan ditawarkan padanya, dan kondisi itu “secara kebetulan” didukung oleh kehamilan April. Frank berdalih pada April. Pertama, mereka tidak akan bisa pindah ke Perancis karena kehamilan April membuatnya tidak akan bisa bekerja di Perancis. Kedua, dengan bertambahnya jumlah anak mereka, mereka membutuhkan lebih banyak uang. Dengan logika Frank, maka tidak pindah ke Perancis dan Frank bertahan di Knox Machines menjadi masuk akal. Meski sepintas logis, sebenarnya alasan Frank hanyalah rasionalisasi dari keengganannya keluar dari sistem.

Knox Machines, atau dengan kata lain kapitalisme, tidak menghendaki salah satu elemen dari sistem roda berjalannya, yakni Frank, berhenti menjadi “mesin”. Apalagi bila mengingat Frank adalah “mesin” yang sudah mendatangkan kapital bagi perusahaan. Adegan ini juga menunjukkan bahwa meski seseorang membenci kapitalisme, ia tidak bisa lepas dari ketergantungan pada kapitalisme.

Heteronormativitas, dan afiliasinya dengan kapitalisme dan maskulinitas modern, “sukses” menghempaskan cita-cita kemandirian April dengan mengembalikannya pada “kodrat” dalam “aturan main” keluarga heteronormatif: reproduksi. Lebih buruk, Frank bahkan menuding April sebagai ibu yang kejam, yang lebih memedulikan keinginannya ketimbang anak dalam kandungan. Sekali lagi, Frank menunjukkan superioritasnya sebagai laki-laki penegak order (Mosse, 1996) terhadap April.

Dalam puncak konflik rumah tangga Wheeler, Frank mengungkit bahwa rumah yang April tempati dalam rumah miliknya. Dari adegan ini kita bisa melihat bagaimana April tidak hanya tidak memiliki rumah sebagai bangunan fisik, melainkan juga homeless secara metafisik-eksistensial. Homelessness yang dialami oleh April digambarkan dengan baik pada adegan April lari ke hutan, Frank mengejarnya dan meminta maaf karena ledakan emosinya. April meminta Frank meninggalkannya sendirian, ia membutuhkan waktu untuk menyendiri. Keesokan paginya April memasak dan kembali bekerja di dapur, emosinya kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa. April, tidak memiliki tempat lain selain rumah Frank. Perempuan, dengan kata lain, tidak memiliki pilihan selain bertahan dan hidup dengan tenang di bawah dominasi laki-laki sebab perempuan tidak memiliki tempat lain untuk lari/pergi.

Ketika Frank pergi bekerja, April dalam keputusasaannya diam-diam melakukan tindakan aborsi pada janinnya. Melalui adegan ini, kita dapat melihat bahwa April ingin memiliki pilihan atas tubuhnya. Terlebih lagi, sebelumnya Frank sempat memaki April dan mengatakan jika April tidak mencintainya mengapa ia mengandung anak Frank. April ingin menunjukkan bahwa ia sudah berhenti mencintai Frank dengan menggugurkan janinnya. Cinta dan reproduksi bukanlah merupakan kesatuan yang niscaya. April ingin mengenyahkan “jejak” Frank tidak hanya dari hatinya, melainkan juga dari tubuhnya. Alih- alih mencapai jalan keluar, April justru mengalami pendarahan hebat. Dalam salah satu adegan ditunjukkan bagaimana April dengan rok berlumur darah tetap hanya bisa memandang dunia luar dari jendela “penjara” rumahnya. Ia sempat menelpon ambulance, dan rumah sakit mengupayakan pertolongan untuk menyelamatkan nyawanya. Namun tragis dan ironis, April justru meninggal dunia.

Klimaks cerita berupa kematian April menunjukkan pesimisme radikal Revolutionary Road. Ada beberapa hal yang saya tandai dari bagian plot cerita ini. Pertama, meski kehamilan April adalah konsekuensi dari tindakan bersama April dan Frank, namun April-lah yang mesti menanggung akibatnya melalui kehamilan. Revolutionary Road seolah ingin mengatakan bahwa kekalahan perjuangan perempuan untuk keluar dari “aturan main” heteronormativitas, salah satunya diakibatkan oleh kodrat reproduksi. Dunia patriarki, sebagaimana ditunjukkan oleh Frank, menyadari betul bahwa kodrat reproduksi (aspek biologis) adalah senjata yang ampuh untuk menentukan serangkaian “kewajiban” perempuan. Dominasi atas perempuan dibuat seolah-olah sebagai kodrat perempuan. Kedua, Revolutionary Road hendak menunjukkan pesimismenya bahwa perempuan bisa menjadi tuan atas tubuhnya sendiri. Kehendak untuk menentukan nasib tubuhnya sendiri justru berakibat gagal dan fatal. Mulanya April hanya ingin menggugurkan janinnya, namun itu justru merenggut nyawanya. April bisa berhenti mencintai Frank, tetapi ia tidak bisa melepaskan tubuhnya dari “jejak” Frank. Ketiga, tidak ada kebebasan dan kemerdekaan bagi perempuan dalam sistem heteronormativitas. Ketidakbebasan perempuan bukanlah pilihan, melainkan sebuah ketiadaan pilihan. Keempat, kematian April adalah hukuman bagi perempuan yang melawan sistem. Heteronormativitas memang memberikan jalan keluar pada April justru melalui kematiannya, atau dengan kata lain, ketika kebebasan tidak lagi ada artinya. Apalah arti kebebasan bagi seseorang yang sudah tidak hidup di dunia?