Notice: Only variables should be passed by reference in /home/bahasine/domains/bahasinema.com/public_html/wp-content/themes/15zine/option-tree/ot-loader.php on line 329
Catatan SBFF: Film dan Wacana (Bagian 2)

Filsuf Jerman, Georg Simmel, dalam teorinya menganalogikan manusia sebagai pintu dan jembatan. Pintu menunjukkan kecenderungan manusia untuk memisahkan atau membedakan, sementara jembatan menunjukkan bagaimana manusia menghubungkan hal yang berbeda.

Oleh karena itu, saya akan meminjam pintu dan jembatan dari Georg Simmel untuk membandingkan sekaligus memahami lebih film-film dari Santos dan Bandung. Sebagai catatan, film Santos terdiri dari 9 fiksi dan 10 dokumenter, sementara film Bandung terdiri dari 11 fiksi dan 4 dokumenter (ditambah 4 film fiksi lagi dari sesi pemutaran khusus). 

Kota sebagai Ruang Hidup

Film-film dari Santos seperti City Windows, Transformations, dan The Loader Men of The Hill bercerita mengenai lanskap kota Santos. Dalam City Windows, misalnya, penonton menyaksikan berbagai macam jenis jendela di kota: jendela di pemukiman padat penduduk, jendela di gedung-gedung tinggi, jendela di rumah, jendela di mobil, hingga jendela di kapal.

Jendela pada film ini menjadi penghubung antara ruang privat dan ruang publik: antara bangunan dan trotoar, mobil dengan jalan raya, atau kapal dengan wilayah perairan. Jendela dijadikan sebuah analogi yang memungkinkan kita untuk melihat, mengetahui, dan memahami sesuatu yang berada di luar.

Dengan kata lain, film adalah jendela bagi kita untuk melihat realitas dunia. Transformations berusaha menangkap perubahan-perubahan yang terjadi di kota. Kota sebagai ruang kehidupan komunal, bertumbuh dan berubah bersamaan dengan para penghuninya. Manusia mengubah wajah kota, dan sebaliknya kota pun mengubah manusia.

The Loader Men of The Hill, yang merupakan film documenter, menangkap korelasi antara lanskap kota dengan pekerjaan warganya. Pekerjaan pengangkut barang seperti tokoh dalam The Loader Men of the Hill barangkali tidak dapat kita temui di tempat lain, dan persis karena itulah film ini menjadi istimewa.

Menariknya, film-film dari kota Bandung minim berbicara kota sebagai ruang hidup. Hal ini mungkin disebabkan karena film-film Santos kebanyakan adalah dokumenter, sementara Bandung kebanyakan berupa fiksi. Kota Bandung di film-film Bandung ditempatkan sebagai sekedar latar tempat atau lokasi syuting, sebagaimana yang terjadi dalam film fiksi Montage of Edelweiss dan Wasuh (Holy Water). Dengan kata lain, Bandung hanyalah “ornamen” yang sebenarnya bisa digantikan dengan kota atau tempat lain.

Film Opor-operan yang menggunakan bahasa sunda dan orang asli sunda pun tidak serta-merta berbicara mengenai kota Bandung. Begitu pula film The Journer of The Mighty Garuda Wisnu Kencana, yang walaupun memotret Bandung sebagai lokasi pengerjaan patung Garuda Wisnu Kencana, lebih patut dikatakan sebagai video dokumentasi daripada film dokumenter.

Keberpihakan Kota terhadap Warga

Dalam film On Wheels, Special Lives at Sea dan Windows, penonton diajak untuk melihat bagaimana kota sebagai ruang hidup tidak hanya menawarkan kenyamanan, melainkan juga tantangan.  Ketiga film tersebut merekam hubungan antara kota dan individu, terutama bagaimana kota memperlakukan orang-orang berkebutuhan khusus dan pasien yang sakit.

Dalam film On Wheels, seorang pengguna kursi roda mesti melalui kontur jalan yang tidak mulus dan berjibaku dengan lalu lintas kendaraan untuk tiba di pusat rehabilitasi fisik. Sang tokoh akhirnya sudah keburu berkeringat sebelum sampai di tujuan. Film On Wheels menegaskan bahwa kehidupan privat kita sebagai individu bisa amat ditentukan oleh apa yang terjadi di ruang publik. Sementara melalui film Windows, kita bisa bertanya lebih jauh, di manakah posisi orang yang sakit dan lemah dalam modernitas kota yang cenderung beritme serba cepat dan maju?

Film Special Lives at Sea lain lagi. Ia justru menampilkan bagaimana Kota Santos—yang letaknya di pinggir laut—merupakan ruang hidup yang nyaman bagi anak-anak berkebutuhan khusus. “Laut adalah hidup saya” demikian narasi film, seolah menunjukkan bagaimana suatu kota telah menjadi “rumah” bagi setiap warganya tanpa terkecuali.

Menyaksikan ketiga film tersebut menstimulus kita untuk bertanya lebih lanjut mengenai Kota Bandung: sudahkah kota kita bersikap ramah dan adil terhadap orang berkebutuhan khusus? Apakah kota kita sudah menyediakan hak-hak warga berkebutuhan khusus misalnya melalui penyediaan fasilitas publik dan kesempatan yang sama dalam pekerjaan? Sudahkan warga kota kita bersikap etis dan menghargai orang berkebutuhan khusus?

Sayangnya tidak ada satu pun film Bandung yang berbicara mengenai problematika ini, padahal sebagai warga kota kita juga memiliki peran untuk membicarakannya.

Efek Kapitalisme terhadap Manusia

Masalah kapitalisme dan efeknya terhadap manusia dituturkan dengan baik oleh film dari kota Santos maupun Bandung, yaitu terlihat pada film Behind the Skin, The Auction of Predator, Penghulu, dan Apparatus Rottenicus.

Kisah yang digambarkan oleh Behind the Skin dan The Auction of Predator memberikan kesan yang muram dan suram. Penonton dibuat merasa getir menyaksikan bagaimana kapitalisme dengan entengnya mengorbankan lingkungan hidup dan manusia demi mendapatkan keuntungan. Buruh pabrik jaket kulit di film Behind the Skin, misalnya, mesti terpapar bahan kimia berbahaya selama bekerja. Sementara nelayan di film The Auction of Predator mesti menerjang ganasnya lautan untuk mendapatkan ikan. Ironisnya, jaket kulit dan sirip ikan dijual dengan harga yang lebih tinggi dari upah para buruh sendiri.

Kedua film ini menyodorkan konflik kepentingan dalam persoalan lingkungan hidup. Pertanyaan retoris diajukan oleh kedua film: jika industri ini ditutup, bagaimana nasib orang-orang yang mencari nafkah dan bertahan hidup melalui industri ini?

Dalam banyak kasus kerusakan lingkungan hidup, warga kelas bawah sering dijadikan dalih agar suatu industri dilanggengkan. Dalam paradigma utilitarianisme, kepentingan mayoritas akan dianggap lebih penting. Oleh sebab itu, pihak yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup sering kali kalah suara karena dianggap tidak lebih mendesak daripada urusan perut. Padahal, nelayan dan buruh sebagai warga kelas bawah kerap dirugikan, sementara pengusaha yang berkuasa-lah yang mendapat keuntungan paling banyak.

Sementara itu, film Penghulu dan Apparatus Rottenicus mempermasalahkan kapitalisme dalam bentuk korupsi. Pada film Penghulu, korupsi ditunjukkan sebagai ambisi untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan efeknya terhadap warga negara lain. Film ini menunjukkan bagaimana pernikahan bukan lagi merupakan perkara afeksi, namun tedapat campur tangan negara yang turut melakukan penyelewengan.

Sementara film Apparatus Rottenicus bercerita mengenai korupsi dengan lebih optimis. Perlawanan terhadap korupsi mesti dimulai dari lingkup sosial mikro. Masyarakat juga perlu turut teliti, proaktif, dan berani untuk mengungkap kebenaran. Korupsi ditunjukkan sebagai masalah yang perlu diselesaikan warga negara secara kolektif dan bahu-membahu, karena korupsi itu sendiri dilakukan secara kolektif. 

Masalah Sumber Daya dan Kelestarian Lingkungan

Masalah sumber daya dan kelestarian lingkungan ditunjukkan pada film Mr Joseph, Wasuh, dan Lapar. Mr Joseph menyoroti kebiasaaan warga yang kerap membuang sampah ke sungai. Sang tokoh, Joseph, menuturkan bagaimana latar belakang sosial dari warga turut mempengaruhi pola pikir mereka. Bagian favorit saya dari film ini adalah ketika Joseph berkeluh kesah sering dianggap gila karena upayanya menjaga kebersihan.

Sementara Wasuh dan Lapar menunjukkan persoalan akses sumber daya. Dalam Wasuh, keluarga-keluarga yang tinggal di pemukiman padat penduduk kesulitan untuk mendapatkan air. Sementara Lapar menggambarkan ironi kehidupan manusia: menjadi manusiawi justru membuat hidup manusia menjadi lebih kompleks. Sang tokoh dalam Lapar misalnya, tidak dapat hidup semudah kudanya yang bisa menyantap rumput untuk bertahan hidup.

Di tengah pesatnya pembangunan kota, lahan hijau semakin tergusur. Kita dapat berandai-andai, apa yang akan terjadi jika daerah rerumputan sudah berganti menjadi beton dan aspal. Kuda dan manusia, terutama yang berasal dari kelas marjinal seperti yang digambarkan dalam Lapar, akan sama-sama sekarat kelaparan.

Kultur, Mitos, Tradisi

Perkara kultur (dalam arti sempit), mitos, dan tradisi ditunjukkan oleh film Kuncup, Jurig, Opor-operan, Raungan Bobotoh, dan Tooth for Tooth. Jika Samuel Huntington pernah memprediksi terjadinya clash of civilization, Kuncup justru hendak menunjukkan bahwa perbedaan kebudayaan tidak mesti berakhir dengan konflik. Perbedaan bukanlah masalah ketika dihadapi dengan tangan, hati terbuka, dan kejenakaan.

Opor-operan menampilkan tradisi dengan cara yang komikal, demikian pula dengan mitos dalam Jurig. Sebagaimana Jurig, film dalam sesi pemutaran khusus, Seorang Kara, juga merupakan film horor. Berbeda dengan Jurig, Seorang Kara justru memilih visual yang instagramable untuk membangun keseraman.  Tooth for tooth dengan cerdas mengawinkan kisah peri gigi dalam dunia anak-anak dengan aturan hukum masa lampau yang menekankan pada pembalasan yang setimpal. Tooth for Tooth sukses membangun keseraman dari sudut pandang seorang anak perempuan. Bandung dan Santos adalah dua kota yang memiliki kultur sepak bola yang kuat. Fanatisme warga Bandung dan Jawa Barat pada umumnya terhadap Persib, klub sepak bola asal Bandung digambarkan dalam film Raungan Bobotoh.

Perkara Tubuh, Gender, dan Seksualitas

Wacana yang kembali absen dalam film-film Bandung adalah perkara tubuh, gender, perempuan, dan seksualitas. Dari kelima belas film Bandung, terdapat dua orang sutradara perempuan, yakni film Wasuh dan Penghulu, namun keduanya memilih berbicara mengenai keluarga sebagai institusi social terkecil di masyarakat.

Hal ini berbeda dengan film-film Santos seperti Happy New Year, Suture, Hurt, dan The Flow yang dengan lugas berbicara mengenai tubuh, perempuan, gender, dan seksualitas. The Flow menampilkan dengan indah perjalanan hidup seorang perempuan. Sementara New Year menghadirkan pertanyaan baru untuk penonton: jika cinta yang tulus sering kali diandaikan sebagai cinta tidak bersyarat, bukankah sudah seharusnya batasan gender tidak menghalangi seseorang untuk jatuh cinta?

Saya tergerak untuk bertanya lebih lanjut, mengapa sineas Bandung tidak berbicara mengenai isu perempuan, LGBT, dan difabel? Apakah sineas Bandung menganggap bahwa tidak ada masalah terkait hal-hal tersebut di Bandung? Atau sebenarnya menyadari permasalah tersebut, namun memilih untuk tidak membicarakannya?

Nampaknya sineas Bandung cenderung fokus melihat pihak yang tertindas adalah pihak yang lemah secara ekonomi. Padahal jika kita beranjak pada data dan fakta, berdasarkan data dari Komnas Perempuan dan Anak pada tahun 2016 di Indonesia terjadi 259.150 kasus kekerasan. Sementara itu ada kurun waktu Januari hingga April 2017 di Jawa Barat terjadi hampir 200 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Tentu saja data itu hanyalah puncak gunung es, sebab masih banyak pihak yang memilih untuk tidak melaporkan kasus kekerasan yang terjadi.

Relasi Emosional antar Manusia

Discomfort, For Her, dan Nox memilih memfokuskan diri pada relasi emosional antar manusia. Nox membicarakan kondisi ketika orang mencintai namun tidak dicintai. Sementara For Her bercerita mengenai seseorang yang dipenjara oleh memorinya tentang perempuan-perempuan dalam hidupnya.

Suture dan Hurt juga berbicara mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan, namun penekanannya lebih ke arah nilai-nilai patriarki. Film Suture berkaitan dengan kisah Hamlet oleh Shakespeare mengenai seorang anak laki-laki yang ingin menegakkan keadilan bagi ayahnya yang tewas karena konspirasi perselingkuhan ibunya dengan pamannya. Dalam Suture, penonton bisa melihat bagaimana perempuan diinginkan sekaligus pula hendak dilenyapkan oleh laki-laki (patriarki).

Sementara film Hurt menampilkan permasalahan dominasi dan obsesi laki-laki dengan cara berbeda, yaitu dengan menampilkan perlawanan perempuan atas hak dirinya.

Peristiwa Sejarah

Peristiwa sejarah diangkat oleh film Nau Insensata dan Awal. Keduanya sama-sama berkisah mengenai orang-orang yang menjadi “korban” dari suatu kebijakan atau kekerasan yang dilakukan oleh institusi negara. Dalam Nau Insensata, kita mengetahui bahwa di antara para narapidana tersebut terdapat pula orang-orang yang mendapat label arbitrari sebagai penjahat, padahal mereka adalah para buruh yang memperjuangkan keadilan untuk kelas pekerja. Kita bahkan bisa merenungkan lebih jauh, siapakah yang akan memenuhi dan menjamin hak para narapidana? Apakah menjadi narapidana berarti kehilangan hak asasi sebagai manusia?

Film Awal menjadi film yang amat berharga karena Bapak Awal Uzhara yang menjadi tokoh utama di film dokumenter ini baru saja wafat. Melalui film ini, generasi kini dan masa depan akan terbantu memahami sejarah 65 yang membuat banyak pelajar di luar negeri tidak bisa pulang ke Indonesia. Dengan kata lain, film mempunyai kemampuan untuk mengbadikan ruang dan waktu. Kedua film ini menjadi contoh bagaimana film menjadi medium untuk membicarakan hal-hal yang dilupakan.

Kisah Imajinatif

Kisah yang jenaka dan imajinatif diceritakan oleh film The Little Monster, Hotel’s Water, dan Roy Woist. Jika The Little Monster terasa jenaka karena kepolosan imajinasi seorang anak dalam menyambungkan berbagai potongan-potongan informasi, Hotel’s Water mengundang tawa melalui gestur yang ditampilkan tokoh-tokoh dalam jalan cerita yang absurd.

Sementara Roy Woist mengundang gelak tawa lewat bentuk stopmotion-nya. Senada dengan Hotel’s Water, rutinitas kehidupan dunia pekerjaan digambarkan Roy Woist dengan cara yang komikal. Seolah-olah kedua sineas ingin menunjukkan bahwa dunia kerja tidak melulu berkenaan dengan hal-hal monoton, dan asas profesionalitas tidak berarti mesti menjadikan kita sebagai robot pekerja.

Kesimpulan

Berdasarkan film-film yang diputarkan oleh SBFF, saya mencatat beberapa hal. Pertama, film Santos didominasi oleh film dokumenter, sementara film Bandung dengan film fiksinya. Kedua, film Bandung cenderung mengkritik status quo ―penguasa atau pihak yang powerful― (kritik vertikal), misalnya dalam film Penghulu. Sementara film Santos cenderung mengkritik sesama masyarakat (kritik horizontal), misalnya dalam film Blues. Ketiga, film dokumenter Bandung didominasi oleh film-film dengan muatan kritik yang gamblang, sementara film dokumenter Santos didominasi oleh film-film yang merekam kehidupan seseorang dan atau suatu tempat (misalnya film Windows dan City Windows). Keempat, sebagaimana yang sudah saya singgung sebelumnya, film-film Bandung memilih untuk mengangkat permasalahan dan melakukan kritik atas kondisi sosial yang terjadi di luar Bandung (film Behind the Skin dan The Auction of Predator), atau menjadi isu nasional (film Awal, Semua Karena).