Tiga program pemutaran yang diputar di SBFF adalah Aduh Lieur[1], Ceunah Tjakep[2], dan Ena-ena tapi gak ena[3]. Aduh Lieur adalah program yang menitikberatkan pada isu-isu dan permasalahan sosial. Ceunah Tjakep berfokus pada pencapaian estetik dari film-film yang diputarkan. Sementara Ena-ena tapi gak ena berfokus pada isu tubuh, perempuan, gender, dan seksualitas.

Dalam setiap program, penonton dapat menyaksikan film Santos dan Bandung. Hanya satu program yang hanya memutarkan film-film Santos, yakni Ena-ena tapi Gak Ena. Program Ena-ena tapi Gak Ena adalah satu-satunya program yang memberikan rating 21+ pada ketentuan pemutarannya.

Pemilihan nama program yang memadukan bahasa Sunda (bahasa lokal asal Jawa Barat) dan bahasa slang adalah sesuatu yang menarik. Programmer festival seolah-olah ingin mengatakan bahwa wacana serius dan pelik yang hendak disampaikan dalam film sebenarnya adalah sesuatu yang dekat dan sering kita temui dalam keseharian. Oleh karena itu acap kali kita tidak sadar, bersikap taken for granted, dan menganggapnya bukan masalah. Di saat bersamaan, seolah-olah kita diajak untuk melihat masalah rumit secara sederhana, bersifat sehari-hari, bahkan satir dan komikal.

Terdapat 15 film dalam program Aduh Lieur: City Windows, Mr Joseph, Kuncup, Behind the Skin, On Wheels, Awal, Nau Insensata, Blues, Wasuh, Penghulu, Special Lives at Sea, Windows, Semua Karena, The Loader Man of the Hill, dan The Auction of Predator.

Sementara dalam Program Ceunah Tjakep terdapat 11 film: Transformences, Lapar, Roy Woist, Hotels Water, Nox, Fragment of Time, Dente por Dente, The Little Monster, Jurig, The Journey of the Mighty Garuda Wisnu Kencana, dan Discomfort. Dan dalam program Ena-ena tapi Gak Ena terdapat 5 film: For Her, The Flow, Happy New Year, Suture, dan Hurt.

Selain itu, terdapat pula program pemutaran khusus pada sesi penutupan festival: Santos I Love You, Raungan Bobotoh, Opor-operan, Mulih, Apparatus Rottenicus, Seorang Kara, dan Montage of Edelweiss.

Antara Kota Bandung dan Film Bandung

Selama 3 hari pelaksanaan SBFF, wacana karakter film Bandung beberapa kali disinggung. Jika film adalah cermin, maka perfilman Bandung perlu berterima kasih kepada Santos karena isu tersebut mencuat dan diperbincangkan setelah sineas dan penonton Bandung menonton film-film asal Santos.

Film-film Santos banyak berbicara mengenai kota sebagai lokus kehidupan dan permasalahan sehari-hari, sementara film-film Bandung agaknya tidak terlampau menitikberatkan kehidupan dan keseharian Bandung.[4]

Roufy Nasution sebagai pembuat film Hotel’s Water, misalnya, dalam pernyataannya di sesi diskusi mengungkapkan bahwa Bandung baginya adalah kota yang mewadahinya berkarya secara nyaman dan kondusif.  Film-film semacam Hotel’s Water, Roy Woist, dan Seorang Kara (dari sesi Special Screening) memilih untuk menjadi film yang “berada di mana-mana”. Berada di kota manakah hotel dalam Hotel’s Water, kantor dalam Roy Woist, dan kamar dalam Seorang Kara adalah pertanyaan yang tidak lagi relevan.

Dari pernyataan Roufy tersebut, maka terlihat bahwa Bandung sekadar dimanfaatkan sebagai latar membuat film, bukan isi dari film itu sendiri. Melalui sampel tersebut, maka mencuat sebuah pertanyaan: apakah kebanyakan sineas Bandung tidak punya keinginan untuk membicarakan kehidupan dan persoalan kota Bandung melalui karyanya? Hal ini bahkan terlihat pula pada film dokumenter asal Bandung (Awal karya Gilang Bayu Santoso) yang memilih untuk mengangkat permasalahan yang terjadi di luar Bandung.

Walaupun begitu, menilai film Bandung hanya melalui film-film yang diputarkan di SBFF mungkin menjadi kurang adil. Belasan film Bandung yang diputar di SBFF sangat mungkin tidak cukup mewakili sekian banyak film yang ada di Bandung. Jika demikian, maka kerja kuratorial menjadi kuncinya.

Catatan kuratorial mengenai pemilihan film Bandung yang dibacakan oleh salah satu kurator, Irvan Aulia, pada sesi penutup SBFF menjadi pernyataan sekaligus pertanyaan penting: Sebenarnya apa itu film Bandung? Apakah film yang dibuat oleh sineas yang berdomisili di Bandung? Atau film yang menceritakan dan berlatar kota Bandung? Namun, sayangnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak menemukan jawabannya di rangkaian film yang diputar. Maka dari itu, bisa jadi bukan hanya sineas Bandung, tetapi juga kurator SBFF berkecenderungan menghindari film-film yang berbicara mengenai Bandung.

Film-film Bandung yang ditampilkan di SBFF ini mungkin menjadi cerminan watak masyarakat Bandung itu sendiri. Jika kota adalah rumah, maka kita sebagai warga Bandung seperti merasa enggan menyadari masalah di rumah sendiri. Jika kenormalan ditandai oleh adanya masalah, dan perkembangan ditandai dengan kemampuan menyelesaikan masalah, maka ketiadaan-masalah tentulah adalah suatu masalah.

Mengamati dan membandingkan film-film dari dua kota berbeda ini, maka terlihat bahwa film-film asal Santos lebih terampil dalam membicarakan masalah keseharian kota, sementara film Bandung lebih fokus dalam memantapkan sinematografi. Selain itu, hal ini juga terlihat dari bagaimana kurator Santos secara lugas memaknai “film Santos” sebagai film-film yang berkisah mengenai kehidupan Kota Santos, sementara kurator Bandung tidak mendefinisikan karya programasinya seperti itu.

Epilog

Kota dan sinema adalah dua hal yang saling mempengaruhi: dalam sinema tecerminlah kota, dalam kota hiduplah sinema. Oleh karena itu, jika ingin mengetahui seperti apa suatu kota, tontonlah film-filmnya. Perkara yang perlu digarisbawahi adalah: apa yang absen menjadi sama pentingnya dengan apa yang hadir. Jika sineas Bandung tidak membicarakan Kota Bandung itu sendiri, maka sebenarnya apa yang terjadi? Apakah kota ini masih menjadi “Paris van Java”, yang sudah nyaman dan juga sudah indah sehingga dirasa tidak ada lagi masalah?

Sebaliknya, kita juga bisa bertanya-tanya: mengapa film Santos tidak berbicara mengenai korupsi, padahal di Brazil terjadi korupsi besar-besaran yang melibatkan dua orang presiden, lembaga legislatif, dan lembaga eksekutif? Apakah karena isu makro tingkat nasional dianggap kurang tepat dibicarakan di tingkat mikro (lokal)?

Atau masyarakat Santos sudah skeptis dengan polemik nasional yang sedang terjadi? Saking skeptisnya terhadap kemajuan kasus korupsi di negaranya, sehingga memilih untuk fokus pada perkara-perkara yang lebih dekat dengan keseharian?

Dalam The Globalization of Nothing, George Ritzer memaparkan bagaimana kapitalisme global berupaya menyeragamkan dunia melalui berbagai standarisasi. Salah satu contohnya adalah pusat-pusat perbelanjaan yang menggunakan prinsip nothing-something. Prinsip nothing adalah konsep penyeragaman di tingkat global, yang membuat kita dapat dengan mudah mengenali McDonalds dan Starbucks di pelosok dunia mana pun. Sementara prinsip something adalah bentuk penyesuaian antara produk yang ditawarkan dengan kultur konsumen, seperti keberadaan nasi yang hanya terdapat pada McDonalds Indonesia.

Penyeragaman ini terjadi pula di ranah film. Di permukaan, film yang berbeda seakan menawarkan cerita yang berbeda pula. Namun, jika dilihat lebih dalam, kita dapat dengan mudah menemukan film-film yang melakukan pengulangan pola dan menghasilkan stereotip.

Film-film arus utama memiliki kecenderungan ini, sebab penggunaan “formula sukses” dapat meminimalisasi risiko kerugian. Bioskop di Bandung, bahkan di Indonesia, mayoritas berada di pusat perbelanjaan. Jika pusat perbelanjaan berjalan dengan prinsip nothing, maka merupakan konsekuensi logis jika bioskop yang berada di dalamnya juga menggunakan prinsip yang sama.

Film pendek yang diputar pada ruang-ruang alternatif memiliki privilege untuk lebih leluasa dalam bertutur, sebab ia tidak dibebani oleh kewajiban menggunakan pola penceritaan tertentu yang diyakini dapat mendatangkan penonton. Keleluasaan, bahkan juga dapat diartikan sebagai kebebasan dalam berkarya ini tentu merupakan sebuah peluang untuk memotret sisi lain kehidupan kemanusiaan kita.

Tentu menjadi sebuah kemubaziran jika keleluasaan untuk berkarya justru masih jatuh pada penyeragaman dan standarisasi nothing: film seolah-olah “baru dan berbeda” padahal sama-sama saja. Hal ini mengandung konsekuensi menumpulnya kepekaan kita terhadap kemanusiaan.

Penyelenggaraan SBFF sudah mengajak saya untuk mengembarakan pikiran dan melihat kembali hal-hal di keseharian yang seringkali kita abaikan. Tentu penyelenggaraan SBFF akan menjadi tidak optimal jika hanya dilihat sebagai kegiatan meriah yang bersifat eventual. Oleh karena itu, di akhir tulisan ini, saya hendak menutupnya dengan harapan agar wacana yang sudah dipantik oleh Santos Bandung Film Festival—yang membuat penontonnya bertanya-tanya mengenai kehidupan sehari-hari dan berikhtiar menciptakan kehidupan yang lebih baik—akan terus bergaung.

***

[1] Aduh Lieur dapat kurang lebih diartikan secara menjadi “I’m so confused” atau “I feel clueless”.

[2] Ceunah Tjakep dapat kurang lebih diartikan menjadi “They said it’s great/beautiful”.

[3] Ena-ena tapi Gak Ena dapat diartikan kurang lebih menjadi “Seems enjoyable but not” atau “un-pleasantness”.

[4] Hal ini tercermin dalam film-film Santos yang banyak memotret jalan-jalan dan lansekap kota.