Notice: Only variables should be passed by reference in /home/bahasine/domains/bahasinema.com/public_html/wp-content/themes/15zine/option-tree/ot-loader.php on line 329
Catatan Pasca Pemutaran: Focus On Kamila Andini

Waktu menunjukan sekitar pukul 4 sore, sekumpulan orang sedang mengobrol sembari menunggu pemutaran “Focus On Kamila Andini” di halaman belakang Garage Room, Bandung pada Jumat (16/2). Pemutaran film-film Kamila Andini: Diana Sendiri Diana, Memoria, dan The Mirror Never Lies diadakan oleh Garage House Cinema dan Bahasinema untuk menyambut film panjang kedua Kamila Andini, Sekala Niskala (The Seen and Unseen) yang akan tayang di bioskop mulai 8 Maret 2018.

Sekumpulan orang yang sudah sabar menunggu akhirnya dipersilakan memasuki ruangan pemutaran. Roufy Nasution sebagai pemandu acara membuka pemutaran dengan menceritakan profil singkat Kamila Andini. Sesaat kemudian lampu dimatikan, ruangan menjadi gelap tanda film siap diputarkan. Diana Sendiri Diana membuka pemutaran sesi pertama yang sayangnya benar-benar sendiri tanpa Memoria yang tak jadi diputar karena terkendala teknis: suara dialog tak terdengar.

Setelah pemutaran, seperti biasa dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh Roufy dan tentunya Iyus –panggilan Yustinus Kristianto. Diskusi seperti biasa juga diawali dengan penonton yang malu-malu. Roufy dan Iyus memantik diskusi dengan membicarakan soal perempuan dan poligami. Mereka juga menyinggung pola bercerita lambat dalam film Kamila Andini.

Diana Sendiri Diana menceritakan sosok perempuan tangguh, Diana (Raihaanun) yang berhasil melewati masa-masa sulit. Pasalnya sang suami, Ari (Tanta Ginting) menikah lagi dengan teman lamanya yang bertemu kembali di pengajian. Alih-alih meminta izin, Ari malah memperlihatkan skema dua keluarga. Sikapnya tersebut menunjukan seakan-akan dirinya mampu berlaku adil.

Meski sedih, Diana tak larut dalam tangisan berkepanjangan. Ia berusaha mencari jalan keluar: meminta Ari untuk berpikir lagi, menceritakan kepada keluarganya dan keluarga Ari, bahkan mempercantik diri ke sauna dan salon. Toh, Diana merasa hubungannya dengan Ari berjalan baik-baik saja. Diana menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga: membantu mengerjakan tugas anaknya, mencuci dan menjemur pakaian, dan memasak makanan untuk suaminya. Apalagi yang dicari Ari?

Namun Diana bukanlah perempuan sempurna. Sebab Ari masih melihat kekurangan dalam diri Diana yang tak ikhlas diduakan. Lagi pula siapa istri yang rela melihat suaminya menikah lagi? Malangnya, Ari juga tak ikhlas menerima perubahan Diana di akhir film. Diana tampil prima sebagai perempuan yang bisa mengurus Rifki –anaknya– sekaligus bekerja mencari nafkah. Sementara Ari merana melihat keberhasilan tersebut, padahal ia yang mengawali semuanya.

Kamila Andini mengatakan bahwa film ini adalah soal perempuan yang menjawab pertanyaan dengan perasaan [1]. Ternyata perasaan itu yang membuat penonton urung bertanya. Semua sedang sibuk merasakan pergolakan hati Diana di bangkunya masing-masing. Kamila tak salah memilih Raihaanun sebagai Diana yang tampil menawan saat menyampaikan pesan (baca: acting). Ekspresi wajah dan tatapan mata Diana bicara banyak ketimbang kata “Ikhlas” yang diucapkan Ari.

Kamila tak membiarkan tokoh Diana masuk jurang perasaan yang selalu dilekatkan pada perempuan. Diana melawan Ari dengan cara lain: memenuhi kebutuhan keluarga, utamanya kepada anak. Ia menjalankan dengan baik fungsi afektif, edukatif, rekreatif, dan juga ekonomis. Sementara tokoh Ari justru tak bisa menunaikan ucapannya untuk berlaku adil kepada Diana dan Rifki.

Sebelum melanjutkan sesi dua: pemutaran The Mirror Never Lies atau Laut Bercermin, penonton dipersilakan untuk beristirahat terlebih dahulu. Sekitar pukul 7 malam, barulah film perdana Kamila Andini itu diputar. Film ini berfokus pada Pakis (Gita Novalista), seorang anak perempuan yang berusaha menemukan ayahnya yang hilang di lautan. Pakis mencari ayahnya setiap hari dengan melihat bayangan melalui sebuah cermin. Sampai kapan Pakis akan mencari ayahnya?

Setelah film selesai, diskusi dimulai lagi. Kali ini suasana lebih seru, topiknya beragam mulai dari sosok ideal laki-laki, usaha melawan trauma, sampai lanskap lautan dan lumba-lumba. Menariknya kedua film Kamila Andini yang diputar bicara soal absennya sosok ideal laki-laki. Pertama, tokoh Ari dalam Sendiri Diana Sendiri yang walau ada tapi sikapnya semena-mena. Kedua, tokoh ayah Pakis dalam The Mirror Never Lies yang tak berwujud tapi sosoknya berkesan bagi Pakis.

Selain itu, Diana Sendiri Diana dan The Mirror Never Lies menampilkan perempuan sebagai tokoh utama. Bedanya, Diana sebagai perempuan dewasa, sedangkan Pakis masih belia. Namun keduanya merupakan tokoh yang berjihad melawan trauma seperti kata Joko Pinurbo. Diana dan Pakis berusaha melawan keadaan sulit yang menimpanya. Walau begitu, Kamila tak lantas membuat kedua film itu mendayu-dayu. Ia lebih memilih bahwa bagaimanapun, kenyataan harus dihadapi dengan kepala tegak.

Soal lanskap lautan dan lumba-lumba, siapa yang berani menyangkal indahnya dua hal ini.